Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui BKSDA Jakarta, menjalin kerja sama dengan YKAN, berkomitmen untuk merestorasi ekosistem mangrove dan melaksanakan program pengelolaan terpadu melalui program MERA.
Diluncurkan pada 2018, MERA merupakan aliansi yang mengedepankan strategi adaptasi berbasis ekosistem. Termasuk konservasi dan restorasi mangrove, yang merupakan tindakan prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir dan melestarikan keanekaragaman hayati. Semua pemangku kepentingan yang terlibat diharapkan dapat aktif menyokong keberlanjutan.
Peletakan batu pertama berlangsung dengan mengikuti protokol Covid-19, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno.
Dirjen KSDAE KLHK Wiratno mengatakan, KLHK melalui BKSDA sangat mendukung pengelolaan terpadu yang dilakukan secara kolaboratif oleh para pihak, seperti MERA, untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi mangrove di Indonesia.
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh BKSDA Jakarta dan YKAN pada 2019, hutan mangrove di Teluk Jakarta berada di bawah tekanan tinggi dari konversi penggunaan lahan. Ini dibuktikan dengan tingginya tingkat penggundulan sejak tahun 1980-an.





Komentar tentang post