Nugroho mengatakan BRIN memiliki armada Kapal Riset (KR) Baruna Jaya untuk mendukung riset samudra bagi periset Indonesia dan periset asing yang bekerja sama dengan periset Indonesia.
Direncanakan armada KR Baruna Jaya I, III dan, VIII akan berlayar sebanyak 300 hari layar pada tahun 2022.
KR Baruna Jaya I dan III telah dilengkapi dengan peralatan Multibeam Ecosounder, yang dapat mencapai kedalaman hingga 10 ribu meter untuk KR I dan 8 ribu meter untuk KR 3.
Para periset dapat memetakan seluruh lautan di Indonesia untuk melihat struktur-struktur spesifik, seperti gunung api, sumber gempa, sumber tsunami di bawah laut, palung, dan sebagainya.
“Dengan kita petakan, kita bisa melihat apakah ada keanekaragaman hayati di ekosistem ekstrim laut dalam,” katanya.
Selain itu, armada kapal riset dilengkapi dengan peralatan portable, seperti isaac klein midwater trawl, plankton net, sedimen grab, sedimen core, rock dredge, dan box core. Dengan peralatan ini, para periset dapat melakukan riset geosains kelautan.
Menurut Nugroho di Indonesia terdapat 295 patahan aktif, namun hanya sedikit yang bisa dipetakan. Apalagi untuk patahan di laut, masih sedikit yang berhasil dipetakan.
Melalui Fasilitasi Hari Layar diharapkan dapat memetakan dengan peralatan yang dimiliki.





Komentar tentang post