Jull Takaliuang dari Save Sangihe Island (SSI), mengapresiasi semangat Audro Cs yang membuat film tersebut.
“Perjuangan kami butuh energi yang panjang dan cara-cara kreatif melawan perusahan tambang yang punya duit besar. Salut Sangihe Documentery Film yang berjuang keras melahirkan film ini,” ujar aktivis perempuan tersebut.
Menurut Jull nantinya film ini akan menjadi media edukasi ketika turun menemui masyarakat di kampung-kampung.
“Kita akan terus menggelorakan perjuangan bersama sehingga sejengkal pun tanah kita tidak direbut oleh perusahan tambang yang merugikan masyarakat kita sendiri,” katanya.
Ketua AMSI Sulawesi Utara, Agust Hari, mengatakan selaku tuan rumah launching dan noreng film berharap media memberikan porsi pemberitaan untuk kasus-kasus tambang, termasuk di Sangihe.
“Saya kira launching dan noreng film di Sekretariat AMSI Sulut memberi semangat bahwa media ikut bersama memberitakan kasus tambang di Sangihe. Sekretariat ini tak hanya tempat berkumpul media dan jurnalis saja untuk pelatihan dan diskusi, tapi memberi ruang bagi masyarakat yang tertindas untuk berekspresi,” kata Agust didampingi Sekretaris AMSI Sulawesi Utara, Supardi Bado.
42 Ribu Hektar Akan Ditambang
Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di ujung utara Indonesia berbatasan dengan Filipina. Dengan menggunakan kapal laut, lama perjalanan dari Manado ke Sangihe selama 8 jam.





Komentar tentang post