Perjalanan tersebut bermula ketika Anak Krakatau muncul pada 1927 sebagai fase pembangunan kembali sistem gunung api setelah runtuhnya Krakatau akibat erupsi 1883. Pada periode awal, pusat erupsi masih berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut.
Interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan berupa ledakan uap, abu, dan material vulkanik.
Endapan yang terus terakumulasi kemudian membentuk daratan Anak Krakatau yang muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.
Pertumbuhan berlanjut selama puluhan tahun. Pada periode 1930–1959, aktivitas didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dan air. Erupsi berulang dengan lontaran material dan kolom abu secara perlahan memperbesar tubuh Anak Krakatau.
Memasuki periode 1959–2018, ketika kawah semakin terisolasi dari laut, aktivitas bergeser menjadi lebih dominan Strombolian–Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava.
Akumulasi produk erupsi selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 330 meter sebelum mengalami kolaps pada 2018.
Dapur Magma
Setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau, dengan kedalaman penyimpanan magma lebih dari 7 km.




