Kamis, September 24, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Sejarah Erupsi Anak Krakatau: Runtuh 2018, Tumbuh Kembali Hingga 2026

redaksi
23 September 2026
Kategori : Berita
0
Sejarah Erupsi Anak Krakatau: Runtuh 2018, Tumbuh Kembali Hingga 2026

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terpantau dari pesawat Grand Caravan Susi Air pada Minggu 23 Desember 2018. FOTO: SUSI AIR

Perjalanan tersebut bermula ketika Anak Krakatau muncul pada 1927 sebagai fase pembangunan kembali sistem gunung api setelah runtuhnya Krakatau akibat erupsi 1883. Pada periode awal, pusat erupsi masih berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut.

Interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan berupa ledakan uap, abu, dan material vulkanik.

Endapan yang terus terakumulasi kemudian membentuk daratan Anak Krakatau yang muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.

Pertumbuhan berlanjut selama puluhan tahun. Pada periode 1930–1959, aktivitas didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dan air. Erupsi berulang dengan lontaran material dan kolom abu secara perlahan memperbesar tubuh Anak Krakatau.

Memasuki periode 1959–2018, ketika kawah semakin terisolasi dari laut, aktivitas bergeser menjadi lebih dominan Strombolian–Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava.

Akumulasi produk erupsi selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 330 meter sebelum mengalami kolaps pada 2018.

Dapur Magma

Setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau, dengan kedalaman penyimpanan magma lebih dari 7 km.

Halaman 2 dari 3
Sebelumnya123Selanjutnya
Tags: Aditya PratamaBRINDini NurfianiGunung Anak KrakatauSelat Sunda
Bagikan8Tweet5KirimKirim
Previous Post

El Niño Kian Menguat di Saat Kondisi Suhu yang Sudah Lebih Panas

Next Post

Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

Postingan Terkait

Status Gunung Anak Krakatau Menjadi Level II Waspada

Status Gunung Anak Krakatau Menjadi Level II Waspada

24 September 2026
Ada Penambahan Daratan Gunung Anak Krakatau Seluas 32.8 Hektare

Ada Penambahan Daratan Gunung Anak Krakatau Seluas 32.8 Hektare

24 September 2026

UNG Bahas Tata Kelola Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum di Unhas

Analisis Kesehatan WHO-WMO Menghadapi El Niño: Panas Ekstrem dan Curah Hujan Meningkatkan Penyebaran Penyakit

Bertindak Menghadapi Risiko Kesehatan Akibat El Niño: Panas Ekstrem, Banjir dan Kekeringan Parah

Pemimpin Dunia Berkumpul di KTT Iklim

Berinvestasi dan Adaptasi Iklim Dalam Menghadapi El Niño

Hujan Lebat di Kabupaten Solok Menyebabkan Banjir Bandang, Satu Orang Meninggal Dunia

Next Post
Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

TERBARU

Status Gunung Anak Krakatau Menjadi Level II Waspada

Ada Penambahan Daratan Gunung Anak Krakatau Seluas 32.8 Hektare

UNG Bahas Tata Kelola Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum di Unhas

Analisis Kesehatan WHO-WMO Menghadapi El Niño: Panas Ekstrem dan Curah Hujan Meningkatkan Penyebaran Penyakit

Bertindak Menghadapi Risiko Kesehatan Akibat El Niño: Panas Ekstrem, Banjir dan Kekeringan Parah

Pemimpin Dunia Berkumpul di KTT Iklim

AmsiNews

REKOMENDASI

Tanah Longsor dan Banjir di Turki Menewaskan 57 Orang

BPDAS Bone Bolango Akan Terus Berkolaborasi untuk Pemulihan Lahan Kritis di Gorontalo

Penyelundup Narkoba Menyamar di Kapal Pesiar dan Kapal Penangkap Ikan

Menkominfo: Penting Jaga Koeksistensi Media

Kebakaran Hutan dan Kesulitan Air Bersih Melanda Sejumlah Wilayah di Indonesia

Filipina Bersiap Kemungkinan Terburuk Dampak Topan Super Kong-rey

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.