Darilaut – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menambah profesor riset yang membawakan orasi mengenai teknologi sensor solid-state untuk mendeteksi pencemaran air. Orasi pengukuhan profesor riset ini disampaikan Goib Wiranto dari Pusat Elektronika dan Telekomunikasi LIPI.
Di antara berbagai teknologi sensor pencemaran air di seluruh dunia, teknologi solid-state mempunyai keunggulan tersendiri yaitu bentuknya yang praktis, cara kerjanya yang sederhana, dan dapat dibuat untuk mendeteksi beberapa parameter secara sekaligus.
Menurut Goib, penguasaan metode rancang bangun sensor tetap dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan, sekaligus meningkatakan kemandirian dalam bidang teknologi sensor untuk pemantauan online.
“Untuk mengatasi persoalan pencemaran air, model pemantauan pencemaran secara online dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (Early Warning System),” kata Goib seperti dikutip dari laman Lipi.go.id.
Profesor Riset LIPI bidang Elektronika mengatakan, dalam sistem pemantauan pencemaran secara daring (dalam jaringan) atau online, sensor memegang peranan utama yang mempunyai fungsi sebagai tempat terjadinya interaksi langsung dengan bahan pencemar yang akan dideteksi.
Sensor ini diharapkan dapat memberikan data mengenai bahan pencemar sehingga dapat segera ditangani sebelum dampak pencemaran semakin meluas. Pemantauan pencemaran secara online juga memiliki banyak keunggulan, dibanding pemantauan secara konvensional.
“Data hasil pengukuran dari sensor harus dapat digunakan oleh pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan terkait mitigasi bencana pencemaran. Di lain pihak, masyarakat juga harus diberikan akses atas informasi pencemaran yang terkait dengan wilayah kehidupannya,” kata Goib.
Menurut Goib, teknologi mikroelektronika mempunyai peranan penting dalam mengatasi persoalan lingkungan melalui sensor-sensor solid-state yang diimplementasikan dalam sistem pemantauan pencemaran secara online.
Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan sensor lingkungan yang berbasis pada teknologi Thin-Film, Thick-Film, dan teknologi Micromachining/MEMs harus terus dilakukan di tengah banyaknya impor di pasar dalam negeri.
Goib mengatakan, dalam situasi keterbatasan infrastruktur fabrikasi sensor di tanah air saat ini, maka teknik-teknik yang bersifat tarif rendah (low-cost) harus menjadi pilihan utama. Seperti sol gel untuk sintesa nanomaterial, teknologi thick-film untuk sensor kualitas air, dan teknologi thin-film serta MEMs untuk sensor kualitas udara.
“Selain itu teknologi micromachining/MEMs berbahan silikon masih berpotensi besar di masa mendatang, untuk itu perlu penguasaan teknologi pengolahan bahan baku silikon agar alat yang dihasilkan memiliki nilai tambah secara ekonomi,” katanya.
Pencemaran lingkungan banyak menimbulkan dampak negatif, di antaranya adalah kerugian ekonomi.
Sebagai contoh, Kabupaten Bandung mengalami kerugian kurang lebih Rp. 11, 4 triliun akibat pencemaran lingkungan.
Kerugian ini akan lebih besar lagi bila ditambahkan dengan kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim, buruknya sanitasi, dan berkurangnya lahan kehutanan.
Pencemaran lingkungan juga berisiko menurunkan tingkat kesehatan masyarakat dan sangat membahayakan.
Dampak terbesarnya akses terhadap sumber air bersih menjadi semakin sulit akibat menurunnya fungsi dan kemampuan sumber-sumber air.
Oleh karena itu, pengawasan dan pencegahan pencemaran air menjadi sangat penting untuk diperhatikan.*
