Dilihat dari kombinasi karakternya katak jantan lebih kecil dengan ukuran panjang tubuh < 16 mm.
“Moncongnya tumpul dan bulat, memiliki tanda punggung bewarna coklat kemerahan atau oranye dengan tuberkel kulit yang menonjol,” kata Amir.
Rury Eprilurahman dari Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada mengatakan saat ini Indonesia memiliki sembilan spesies Microhyla yaitu M. achatina (Jawa), M. berdmorei (Kalimantan dan Sumatra), M. mukhlesuri (Sumatra), M. gadjahmadai (Sumatra), M. heymonsi (Sumatra), M. malang (Kalimantan), M. orientalis (Jawa, Bali, Sulawesi, dan Timor), M. palmipes (Bali, Jawa, dan Sumatra), dan M. superciliaris (Sumatera).
Dari jumlah tersebut, empat spesies (M. achatina, M. gadjahmadai, M. orientalis, dan M. palmipes) merupakan jenis endemik Indonesia.
Pulau Sumatera, menempati posisi kedua wilayah terluas untuk keanekaragaman spesies Microhyla. Hal ini diwakili oleh tujuh dari sembilan spesies Indonesia (M. achatina, M. berdmorei, M. gadjahmadai, M. heymonsi, M. fissipes, M. palmipes, dan M. superciliaris).
Terkait status konservasi amfibi di pulau Belitung, Amir menjelaskan bahwa habitat amfibi di pulau ini sudah terancam oleh kegiatan antropogenik yang mengakibatkan kerusakan habitat beberapa jesnis amfibi.
Penemuan Microhyla sriwijaya menegaskan perlunya melestarikan habitat alami pulau yang berharga.





Komentar tentang post