Ternyata, dari hasil itu, kalau monodon ya 100 persen antara monodon dengan monodon. Tapi, ”begitu kita bandingkan monodon dengan udang pisang, ternyata identity-nya itu hanya 92 persen,” kata Sugama seperti dikutip dari Brin.go.id.
“Artinya, kalau identity di bawah 95 persen, peluang besar itu adalah beda spesies.”
Temuan ini secara jelas mengonfirmasi udang pisang adalah spesies baru, yang kemudian diusulkan dengan nama ilmiah Penaeus symplex Sp. Nov.
Dari segi ciri fisik (morfologi), data juga menunjukkan perbedaan anatomi yang presisi. Mengenai identifikasi moncong udang, kalau kita perhatikan dengan rostrumnya, duri yang atas untuk udang pisang itu antara 7, yang duri bawahnya 3. Kalau untuk udang monodon, duri yang atas 8, di bawahnya 3, kata Sugama.
Menurut Sugama rostrum udang pisang membentang lebih panjang dibandingkan udang monodon.
Secara biologis, spesimen liar udang pisang memiliki postur tubuh yang cukup besar. Bobot induk jantan spesies ini dapat menyentuh angka 40 gram.
Dari segi dimensi tubuh, panjang induk betina tercatat mampu mencapai 23 cm, sementara pejantannya mencapai 17 cm.
Sementara dari segi pigmentasi warna tubuh, Sugama menjelaskan bahwa udang pisang memiliki rona tubuh yang cenderung kemerahan (reddish). Warna tersebut akan berubah menjadi sangat merah ketika udang diproses atau dimasak.




