Darilaut – Beban fiskal yang dialami industri media sangat berdampak pada kualitas jurnalisme di Indonesia.
Biaya operasional media yang terus naik, sementara pendapatan iklan turun drastis, membuat perusahaan media melakukan PHK besar-besaran terhadap jurnalis.
Hal ini juga bisa membawa dampak bagi menurunnya kualitas jurnalis dan berita yang dihasilkan.
Menurut Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, kualitas jurnalisme di Indonesia harus diperkuat dengan dukungan fiskal seperti relaksasi pajak kepada perusahaan media.
“Kita media dan jurnalis, khususnya jurnalisme, karena media dan jurnalis itu hal yang berbeda, membutuhkan dukungan insentif pajak dari pemerintah, itu sebabnya #NoTaxforKnowledge sangat penting,” kata Nany.
“Kenapa? Apapun yang dihasilkan atau yang diproduksi media itu sebenarnya adalah pengetahuan, sebagaimana fungsi media itu. Fungsinya untuk memberikan informasi dan pengetahuan, juga menghibur, jadi ada beberapa fungsi jurnalis dan jurnalisme di situ.”
Menurut Nani jika beban fiskal media tak didukung oleh langkah strategis pemerintah dengan relaksasi pajak, akan berdampak signifikan bagi ekosistem informasi, termasuk maraknya penyebaran hoax dan fake news.
“Ini bagian dari pendidikan atau pengetahuan untuk khalayak, jadi saya pikir ide ini udah cukup bagus ya, terutama untuk mendukung hidupnya media-media dan juga nanti jika medianya hidup, otomatis kan jurnalisnya pasti akan Sejahtera,” ujar Nany.




