Darilaut – Orangutan sumatra (Pongo abelli) dalam status kritis diselundupkan di Pelabuhan Bakauheni Lampung.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Lampung dan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni Polres Lampung Selatan berhasil menyelamatkan kedua orangutan ini. Operasi digelar bersama Balai Karantina Pertanian Wilayah Kerja Bakauheni dengan mitra NGO Jakarta Animal Aid Network (JAAN).
Orangutan tersebut diselundupkan dari Lubuk Pakam Sumatera Utara dengan cara diangkut menggunakan bus tujuan Tangerang pada tanggal 26 April 2021.
Saat ini kasusnya ditangani Penyidik Polres Lampung Selatan, dan kedua orangutan ini menjadi barang buktinya.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem memindahkan 2 (dua) ekor Orangutan sumatra (Pongo abelli) dari Lampung ke Jambi, Minggu, (20/5).
Setelah dipindahkan ke Jambi, kedua Orangutan berkelamin jantan dan betina, serta masih berusia muda (diperkirakan berumur 1 sampai 1,4 tahun) akan direhabilitasi di Stasiun Adaptasi OOS Danau Alo Tanjung Jabung Barat.
Kemudian akan direintroduksi di Stasiun Reintroduksi Pengian Kabupaten Tebo, setelah sebelumnya di Lampung kedua satwa langka ini dirawat di Sumatran Wildlife Center (SWC) JAAN.
Prosesi penyerahan dilakukan di Kantor Balai KSDA Jambi oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu kepada Kepala BKSDA Jambi yang disaksikan oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Polres Lampung Selatan, Kejaksaan Negeri Lampung Selatan, Balai Karantina Kelas I Bandar Lampung, Frankfurt Zooogical Society (FZS), dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN).
Orangutan sumatra adalah satwa endemik Sumatera dan dilindungi. Badan konservasi dunia The International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukan orangutan dalam status kritis. CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) memasukan satwa ini ke dalam apendiks I.
Hasil penelitian yang diterbitkan pada 19 Mei 2021 di jurnal PLOS Biology oleh Caroline Schuppli dari Max-Planck Institute of Animal Behavior, orangutan betina dan jantan yang belum dewasa mengarahkan perhatian sosial mereka ke berbagai individu. Hal ini berpotensi untuk memperoleh pengetahuan ekologi spesifik jenis kelamin yang akan mereka butuhkan di kemudian hari.
Phys.org memberitakan, orangutan yang belum dewasa harus memperoleh serangkaian keterampilan dan pengetahuan yang luas melalui pembelajaran dan praktik sosial selama beberapa tahun.
Sementara orangutan betina dan jantan dewasa menunjukkan perbedaan perilaku, termasuk pola pencarian makan dan penyebaran berdasarkan jenis kelamin.
Schuppli dan rekannya menyelidiki bagaimana lintasan kehidupan yang berbeda ini terkait dengan minat sosial dan pengetahuan ekologi yang muncul pada hewan yang belum dewasa.
Mereka menganalisis data observasi yang rinci selama 15 tahun tentang pembelajaran sosial dan pola makan 50 orangutan muda dari dua populasi liar Sumatera.
