Sebuah studi, menurutnya, memperkirakan kerugian akibat cuaca ekstrem musim panas ini di Eropa mencapai 180 miliar euro—akibat hilangnya produktivitas serta gangguan pada sektor pangan, energi, dan transportasi.
Angka ini setara dengan hilangnya satu poin persentase penuh dari PDB, atau kira-kira sebesar perkiraan pertumbuhan ekonomi UE tahun ini.
Stiell mengaitkan kerugian tersebut secara langsung dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta memperingatkan akan adanya krisis bahan bakar musim dingin yang mengancam rumah tangga dan dunia usaha di Eropa.
Jangan Bersikap Lunak
“Bersikap lunak terhadap aksi iklim berarti bersikap lunak terhadap inflasi dan biaya hidup, kedaulatan dan keamanan, serta pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja,” ujarnya.
Transisi energi bersih menawarkan jalan keluar bagi Eropa. Energi terbarukan kini memasok sekitar separuh kebutuhan listrik benua tersebut, kata Stiell. Pembangkit listrik tenaga surya saja telah menghemat lebih dari 30 miliar euro bagi Eropa karena tidak perlunya mengimpor gas selama enam bulan pertama konflik di Timur Tengah.
Di tingkat global, investasi energi bersih mencapai lebih dari dua triliun dolar tahun lalu, tambahnya—dua kali lipat dari investasi untuk bahan bakar fosil.
Stiell memperingatkan bahwa tanpa kerja sama iklim internasional, dunia akan menuju pemanasan global yang jauh melampaui empat derajat Celsius; dengan adanya kerja sama tersebut, kebijakan saat ini mengarah pada kenaikan sebesar 2,6 derajat—angka yang masih jauh di atas batas 1,5 derajat yang disepakati berbagai negara pada tahun 2015.




