Yasuhito Shimada dari Mie University Jepang, menjelaskan perkembangan garra rufa sebagai ikan model yang mampu hidup stabil pada suhu 37 derajat Celsius.
Kondisi ini mendekati suhu fisiologis manusia dan membuka peluang luas bagi riset penyakit manusia serta penemuan obat berbasis pendekatan phenotype-based discovery.
“Pengembangan model ini didukung oleh berbagai sumber daya riset mutakhir, mulai dari perakitan genom tingkat kromosom,” ujar Shimada, mengutip Brin.go.id.
“Pengembangan atlas histologi sebagai dasar interpretasi anatomi dan anotasi molekuler, hingga analisis ATAC-seq untuk mengkaji perubahan aksesibilitas kromatin yang berkaitan dengan toleransi suhu tinggi.”
Shimada mengatakan pemanfaatan garra rufa telah diperluas ke berbagai domain riset, termasuk pemodelan obesitas dan metabolisme, desain transplantasi kanker, pengembangan model infeksi untuk mengevaluasi respons inang dan efektivitas terapi, serta kajian fungsi otak dan perilaku.
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar, Khairul Syahputra, mengatakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh Tetracapsuloides bryosalmonae telah menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi salmonid di berbagai wilayah Eropa.
Peningkatan suhu perairan diketahui memperburuk kondisi fisiologis ikan sekaligus mempercepat siklus hidup parasit pada inang perantara, sehingga meningkatkan keparahan penyakit, kata Khairul.




