Darilaut – Menjaga alam terbukti merupakan investasi keuangan yang cerdas. Frekuensi bencana telah meningkat empat kali lipat dalam dua dekade terakhir dibandingkan dengan tahun 1970-an.
Peristiwa bencana ini, dengan skala dan intensitasnya yang semakin meningkat, menghancurkan kehidupan jutaan orang dan menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar. Kondisi ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk bertindak.
Laporan resmi seringkali berfokus pada kerusakan infrastruktur. Namun, peristiwa ini juga memiliki banyak konsekuensi tidak langsung bagi alam, kesehatan masyarakat, pendidikan, dan mata pencaharian, dengan efek berantai yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Dengan mempertimbangkan semua konsekuensinya, biaya tahunan bencana dapat mencapai USD 2,3 triliun.
Berkaitan dengan dengan peringatan Hari Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (International Day for Disaster Risk Reduction) pada 13 Oktober 2025, Program Lingkungan PBB (UNEP) menguraikan pengurangan risiko bencana dalam angka:
• Pada tahun 2024, 393 bencana berdampak pada 167 juta orang, mengakibatkan lebih dari 16.700 kematian dan kerugian material lebih dari US$240 miliar.
• Dengan mempertimbangkan dampak langsung dan tidak langsung, perkiraan biaya tahunan bencana dapat mencapai US$2,3 triliun — 11 kali lebih tinggi dari angka yang biasanya dilaporkan.
• Meskipun terbukti efektif, solusi berbasis alam atau nature-based solution (NbS) sangat kekurangan dana, hanya menerima sekitar US$200 miliar –sepertiga dari jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai target iklim, keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan pada tahun 2030. Sebagian besar dana berasal dari sumber publik, sementara sektor swasta hanya berkontribusi 18 persen.
• Investasi tahunan dalam NbS harus meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2025 (dari US$200 miliar menjadi $436 miliar) dan hampir tiga kali lipat menjadi $542 miliar pada tahun 2030.
• Studi menunjukkan bahwa setiap US$1 yang dibelanjakan untuk pengurangan risiko bencana menghasilkan pengembalian rata-rata sebesar $15 dalam bentuk biaya pemulihan bencana di masa mendatang yang dapat dihindari.
• Setiap EUR1 yang diinvestasikan dalam menciptakan daerah resapan air di Eropa dapat menghemat EUR4 dalam bentuk kerusakan yang dapat dihindari dalam skenario pemanasan 3°C.
Pembiayaan Inovatif
Dengan mengalihkan pembiayaan dari alokasi marjinal ke investasi arus utama dalam solusi berbasis alam, negara-negara dapat memperkuat ketahanan dan mengurangi risiko bencana sekaligus menghemat biaya. Pada akhirnya, strategi ini akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan hasil pembangunan.
Namun, terlepas dari manfaatnya yang telah terbukti, saat ini hanya sebagian kecil dari pendanaan iklim global yang mencapai pengurangan risiko bencana, dan hanya 3 persen yang dialokasikan untuk NbS.
Investasi tahunan harus meningkat tiga kali lipat menjadi US$542 miliar pada tahun 2030 untuk memenuhi target iklim, keanekaragaman hayati, restorasi lahan, dan ketahanan bencana.
Dana baru dan mekanisme pembiayaan inovatif menjanjikan masa depan. Dana Iklim Hijau (GCF) menunjukkan bagaimana pembiayaan skala besar dapat mengintegrasikan NbS ke dalam adaptasi iklim.
Dengan lebih dari $10,3 miliar yang dijanjikan, $3,5 miliar yang dikomitmenkan, dan $1,4 miliar yang diinvestasikan, hal ini menunjukkan bagaimana sumber daya publik dapat menyalurkan investasi sektor swasta ke dalam solusi iklim yang inovatif dan hemat biaya.
Pendanaan publik dari GCF digunakan untuk menciptakan platform yang mendorong dan menyalurkan investasi sektor swasta ke dalam solusi iklim.
Mekanisme inovatif seperti model pembiayaan campuran (blended finance) dan pay-for-success, serta pertukaran utang untuk alam (debt-for-nature swap) menawarkan cara baru bagi negara-negara berkembang untuk mendanai Eco-DRR dan program-program NbS lainnya, dengan mengaitkan dana dengan hasil yang terukur.
Inisiatif-inisiatif ini membantu membuka sumber daya untuk ketahanan iklim — dan melindungi ekosistem serta masyarakat yang bergantung padanya.
