Darilaut – Alat buatan dalam negeri, PUMMA, tidak hanya untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Indonesia.
PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut) atau Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) dapat dimafaatkan untuk memantau banjir rob (banjir pesisir).
Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang, PRKG BRIN, Semeidi Husrin, mengatakan bahwa salah satu keunggulan PUMMA penempatannya memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai natural offshore buoy atau pelampung alami di tengah laut.
“Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit,” kata Semeidi seperti dikutip dari Brin.go.id.
Pada periode 2020–2021, terdapat delapan unit PUMMA yang terpasang di Indonesia, yaitu di Lampung, Banten, Jawa Barat (dua unit), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat (dua unit), dan Jakarta.
Kemampuan PUMMA sudah teruji dalam situasi nyata. Ketika tsunami akibat letusan Gunung api Hunga Tonga menghantam perairan Indonesia pada Januari 2022, PUMMA berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang, kata Semeidi.



