“Ke depan kami akan membenahi hal tersebut sesuai dengan regulasi,” ujar Syafrie.
Lokasi Pantai Botubarani termasuk salah satu Kawasan konservasi Perairan Daerah (KKPD). Diperlukan lembaga pengelola kawasan konservasi yang sesuai dengan mandatnya agar bisa mengatur kehadiran wisatawan.
Menurut Peneliti Kelautan dan Wisata Bahari, Gusnar Lubis Ismail, kunjungan wisatawan tersebut ibarat warna warni sampah plastik yang mengapung di kawasan konservasi karena sudah tidak ada keteraturan, serta aturan berinteraksi sudah tidak dijalankan dan diindahkan lagi.
“Saya berharap wisata Bahari di Gorontalo termasuk wisata minat khusus hiu paus Botubarani dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah konservasi agar wisata baharinya berkelanjutan,” kata Gusnar.
”Harusnya wisata minat hiu paus Botubarani mengadopsi pengelolaan wisata minat hiu paus yang sudah berkembang di dunia seperti di Australia, Philipina, dan di Indonesia seperti di Teluk Cendrawasi Papua & Teluk Saleh Sumbawa,” ujar Gusnar.
Gusnar juga menegaskan bahwa Gorontalo harusnya bersyukur dengan kedatangan kapal pesiar yang membawa banyak wisatawan asing berkunjung ke Wisata Hiu Paus Botubarani.
Hal ini menjadi berkah bagi kelompok dan pelaku wisata Bahari dan bisa menjadikan Gorontalo sebagai tujuan utama wisatawan manca negara dan bukan hanya sekadar tempat persinggahan atau transit wisatawan. (VM / Sulis Dwi Fadjar Baeda)




