Saat ini Program CODRS digunakan untuk memantau stok ikan kakap, kerapu, dan tuna secara waktu nyata (real time) dan mengumpulkan data status stok 50 spesies kakap dan kerapu di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan di Indonesia.
”Kami bekerja sama dengan kurang lebih 500 kapal nelayan untuk mendapatkan data perikanan. Nelayan yang membantu pendataan dilatih untuk mengambil foto seluruh hasil tangkapan ikan di atas papan ukur,” kata Direktur Program Perikanan Berkelanjutan YKAN Peter Mous.
Dengan cara ini jauh lebih praktis dan mudah bagi nelayan ketimbang menuliskan dan mencatat hasil tangkapan ikan dengan menggunakan pena dan buku catatan.
Soalnya, menurut Peter, dapat mengurangi risiko kesalahan mengidentifikasi ikan yang kerap terjadi dalam pencatatan secara manual tersebut. Melalui data yang diambil oleh nelayan, dapat diperoleh gambaran terkini mengenai kakap dan kerapu.
“Data ini digunakan untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan,” katanya.
Kondisi perikanan tangkap di Indonesia yang majemuk tentu membutuhkan sinergi semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan tata kelola yang berkelanjutan.
“Berbicara perikanan tangkap di Indonesia, kondisinya adalah multispesies, multihabitat, multigear dan multistakeholder. Untuk itu diperlukan sinergi, kolaborasi, dan harmoni agar tercipta tata kelola yang berkelanjutan,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini.





Komentar tentang post