Zaini mengatakan pentingnya menerapkan keseimbangan dalam pengelolaan yang merupakan wujud prinsip ekonomi biru. Hal ini meliputi efisiensi sumber daya alam, penerapan nilai ekonomi dan sosial yang seimbang dan tidak semata fokus pada profit, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Contoh pengejawantahan prinsip-prinsip tersebut dalam model bisnis adalah melalui penangkapan ikan yang ramah lingkungan, pengembangan pelabuhan ikan yang berwawasan lingkungan, dan pengolahan limbah perikanan.
Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto mengatakan saat ini YKAN juga sedang mengerjakan Fisheries Improvement Project atau proyek peningkatan perikanan bekerja sama dengan enam perusahaan anggota ADI.
Perusahan-perusahaan tersebut berkomitmen untuk mendapatkan kakap dan kerapu dari sumber yang dikelola secara berkelanjutan.
Menurut Herlina pengelolaan perikanan secara berkelanjutan merupakan mandat Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Perikanan.
“Kami mendukung KKP untuk mendorong praktik pengelolaan perikanan yang terukur dan didukung data yang sahih,” katanya.
Dengan pengelolaan yang baik, kata Herlina, akan terbuka kesempatan bagi perikanan kakap dan kerapu untuk memenuhi standar keberlanjutan dari Marine Stewardship Council.
“Informasi dan data perlu digunakan untuk merumuskan strategi, rencana kerja dan yang lebih penting lagi aksi-aksi kunci untuk menjamin keberlanjutan perikanan kakap dan kerapu di Indonesia,” ujar Herlina.





Komentar tentang post