Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Rini Murtiningsih, menjelaskan serangan trips, ulat grayak, lalat bawang, dan berbagai penyakit tanaman masih menjadi tantangan utama bagi petani bawang merah.
Menurut Rini pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu terus dikembangkan melalui kombinasi budi daya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan agroekosistem secara rutin, dan peningkatan kapasitas petani sebagai pelaku utama pengendalian.
Berbagai inovasi teknologi telah diuji untuk mendukung implementasi pendekatan tersebut. Di antaranya penggunaan feromon exi, nano-biopestisida, teknologi budi daya terlindungi melalui netting house, serta sistem irigasi tetes.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi netting house dan irigasi tetes mampu menekan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sekaligus menjaga produktivitas bawang merah pada kisaran 12–14 ton per hektare.
Tidak hanya itu, teknologi irigasi tetes terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta mampu mengurangi kebutuhan pupuk hingga sekitar 30 persen dibandingkan sistem budi daya konvensional.
Adopsi teknologi netting house oleh petani di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, bahkan menunjukkan manfaat ekonomi yang nyata karena mampu menekan biaya penggunaan pestisida antara 30 hingga 70 persen.



