Hasil ini konsisten dengan analisis Fe-Ti oxide dan semakin memperkuat bukti adanya perubahan kondisi redoks serta komposisi magma antar periode.
Dari keseluruhan hasil analisis, menurut Aditya, penelitian menempatkan Anak Krakatau pada fase inkubasi dalam siklus evolusi kaldera, sementara Old dan Young Krakatau dikaitkan dengan fase maturasi.
Pada fase inkubasi pasca-letusan 1883, ”magma mafik baru dipandang mengisi kembali sistem yang disertai aktivitas erupsi yang relatif kecil dan sering,” kata Aditya seperti dikutip dari Brin.go.id.
Aditya menjelaskan bahwa apabila proses diferensiasi magma Anak Krakatau terus berlangsung, sistem tersebut secara konseptual dapat bergerak menuju fase maturasi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menjadi bagian dari proses menuju caldera-forming eruption berikutnya.
Namun, interpretasi tersebut merupakan gambaran evolusi sistem magmatik dan bukan prediksi waktu terjadinya letusan besar.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa Krakatau memiliki karakter sebagai sistem polisiklik, dengan sejarah pembentukan kaldera yang berlangsung berulang.
Pola evolusi Krakatau bahkan menunjukkan kemiripan dengan beberapa sistem kaldera besar lainnya, seperti Rinjani dan Aso, terutama dalam kecenderungan peningkatan SiO₂ akibat diferensiasi magma menjelang letusan pembentuk kaldera.




