“Misalkan di China, di sana terdapat 4 studi yang dilaporkan uji klinisnya, tapi sayangnya pasiennya masih sedikit. Ada yang dilakukan kepada 5 pasien, 10 pasien, 6 pasien, dan bahkan yang di Korea hanya 2 pasien,” ujar Erlina.
Di Indonesia, terapi convalescent, masih berada dalam tahap uji klinis kepada para pasien positif Covid-19 dengan gejala berat. Beberapa rumah sakit (RS), termasuk RSUP Persahabatan telah siap dan akan segera melakukan uji coba terkait terapi ini.
Menurut Erlina, sudah banyak sebenarnya rumah sakit yang melakukan uji klinis (plasma convalescent) ini, seperti RSPAD, RSCM, dan saat ini RS Persahabatan.
“Proposalnya sudah lulus uji etik dan telah diumumkan juga kepada pasien-pasien (RS Persahabatan) kami, apabila terdapat sukarelawan yang ini mendonorkan kepada pasien-pasien yang sakit. Saat ini kami (RS Persahabatan) sudah mendapatkan beberapa orang donor. Sudah cukup dan menemui kecocokan antara darah dari pendonor dengan pasien kami sehingga akan segera kami berikan,” kata Erlina.
Kendati uji klinis yang dilakukan masih terbatas pada jumlah pasien yang sedikit, Erlina mengatakan, masih belum bisa mengambil kesimpulan yang tegas bahwa terapi plasma convalescent ini bisa digunakan sebagai pengobatan yang rutin kepada pasien positif Covid-19.





Komentar tentang post