Makna filosofis dari Si Beno sebagai benteng demokrasi lokal Kota Gorontalo yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi berintegritas.
Maskot pilkada secara kasat mata dapat dilihat dari mahkotanya yang berbentuk khas Benteng Otanaha. Dengan warna abu-abu berkombinasi putih, menggunakan Bate Karawo (sarung karawo) berwarna merah dan bercorak kuning emas, memegang surat suara ditangan kanan dan paku untuk mencoblos ditangan kiri, serta terdapat logo KPU pada mahkota yang digunanakannya.
Visual tersebut tentu memilki makna filosofis tertentu sesuai dengan adat dan budaya maskyarakat lokal.
Bate Karawo (sarung karawo) yang digunakan oleh maskot terdapat motif bunga Tatudi, sebuah bunga yang tumbuh kokoh dengan bunga yang besar mempesona yang berfungsi sebagai tanaman penghias dan umbinya dapat digunakan sebagai obat yang mujarab bagi kesehatan.
Motif lainnya pada sarung maskot adalah motif bunga Polohungo (bunga puring). Dalam bahasa Gorontalo bunga Puring disebut sebagai bunga Polohungo, beberapa desa di Gorontalo bahkan menamakan desa mereka dengan desa Polohungo.
Di Gorontalo sendiri bunga polohungo dianggap sebagai tanaman adat, biasanya ditanam berjejer didepan rumah hingga membentuk pagar hidup.
Selanjutnya adalah motif Pahangga. Pahangga merupakan bentuk yang ada di tiang atau pilar di setiap singgasana raja di Gorontalo.




