Untuk merespons kondisi tersebut, tim menerapkan pendekatan ekonometrika lingkungan (environmental econometrics) guna mengidentifikasi secara empiris faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat nelayan dalam mengadopsi teknologi ramah ekosistem — seperti alat bantu navigasi hemat bahan bakar, alat tangkap yang lebih selektif, hingga skema rumpon yang lebih ramah lingkungan.
Melalui survei terstruktur dan diskusi kelompok terarah (FGD) terhadap 33 responden, tim menyusun model estimasi yang memetakan pengaruh faktor seperti jarak tangkap, biaya operasional, tingkat pendidikan, akses informasi, hingga akses permodalan terhadap kesiapan nelayan beradopsi teknologi.
“Pendekatan berbasis data ini penting agar program pendampingan tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjawab akar masalah yang dihadapi nelayan di lapangan,” kata Tamang Rumtini.
Dari hasil sementara di lapangan, tim menemukan bahwa keterbatasan akses permodalan menjadi salah satu penghambat utama adopsi teknologi, sementara keanggotaan dalam kelompok nelayan serta akses terhadap penyuluhan justru berperan sebagai faktor pendorong.
Temuan ini akan menjadi dasar rekomendasi bagi mitra maupun instansi terkait, termasuk usulan penataan pemanfaatan rumpon secara lebih kolaboratif antarkelompok nelayan di wilayah Pelabuhan Ratu.



