Darilaut – Kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan telah meluas. Titik api telah bertambah dan tersebar di sejumlah Lokasi. Berdasarkan aplikasi Zoom.earth, areal yang terbakar dan sebaran secara umum ada sebelumnya ada di sembilan titik bertambah menjadi 13. Kode masing-masing GDACS 1030312 Fire 6.020 ha, GDACS 1030418 Fire 5.277 ha, GDACS 1030313 Fire 6.720 ha dan GDACS 1030303 Fire seluas 7.985 ha. Kemudian, GDACS 1030532 Fire 6.172 ha, GDACS 1030876 Fire 6.037 ha, GDACS 1030660 Fire 9.125 ha, GDACS 1030791 Fire 6.059 ha, GDACS 1030879 Fire 6.661 ha. GDACS 1031052 Fire 5.244 ha, GDACS 1030460 Fire 10.972 ha, 1030913 Fire 5.492 ha dan GDACS 1030809 Fire 7.573 ha. GDACS fire (kebakaran hutan) pada sistem GDACS (Global Disaster Alert and Coordination System) adalah fitur pemantauan dan peringatan dini global yang mendeteksi serta menilai dampak kebakaran hutan atau lahan besar di seluruh dunia. Sistem ini merupakan kerja sama antara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komisi Eropa. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus memperkuat operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah prioritas. Penguatan dilakukan melalui operasi udara, operasi darat, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penguatan operasi darat dan udara pada penanganan kebakaran ini mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Di Kalimantan Barat, operasi udara terus diperkuat melalui water bombing. Pada Minggu (23/8), operasi empat unit water bombing dilaksanakan sebanyak delapan sortie dengan total 223 kali penjatuhan air sebanyak 1.052.000 liter. Dari operasi tersebut, dilaporkan estimasi luas lahan yang berhasil ditangani sekitar 13 hektare. Untuk mendukung penanganan tersebut, OMC dilaksanakan pada periode 22–27 Agustus 2026 di wilayah Kalimantan Barat. Pada Minggu (23/8), sebanyak tiga sortie dengan total 3.000 kg bahan semai dilakukan untuk mendorong pertumbuhan awan hujan di wilayah yang berpotensi terdampak karhutla. Satu unit armada patroli juga dikerahkan untuk memantau wilayah terdampak. Di samping operasi udara, operasi darat juga terus dilakukan oleh BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, DLHK, dan unsur lainnya. Luas lahan yang dilakukan pemadaman darat hingga Minggu (23/8) diperkirakan mencapai 104,8 hektare. Potensi pengerahan personel gabungan di Kalimantan Barat mencapai sekitar 2.751 personel. Penguatan operasi juga dilakukan di Kalimantan Tengah. Operasi udara melibatkan dua armada patroli yang menemukan total 25 fire spot. Sementara itu, operasi water bombing dilaksanakan oleh tiga helikopter yang aktif beroperasi. Ketiganya melakukan total 159 kali penjatuhan air. Terkait dengan operasi OMC, tim BNPB terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memastikan waktu paling efektif dalam melaksanakan operasi OMC di wilayah terdampak. Di samping itu, satgas darat berhasil menangani 55,63 hektare lahan terbakar hingga Minggu (23/8). Dalam pelaksanaan operasi darat tersebut, penanganan didukung sekitar 10.700 personel yang terdiri atas BPBD, relawan, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, unsur pemerintah daerah, dan Manggala Agni. Selanjutnya, penanganan di Kalimantan Selatan juga terus diperkuat melalui operasi udara dan darat. Armada operasi udara terdiri atas dua unit patroli dan tiga unit water bombing. Pada Minggu (23/8), dua helikopter water bombing aktif melaksanakan total 243 kali penjatuhan air dengan volume 1.029.000 liter dan berhasil menangani sekitar 13 hektare lahan. Operasi darat dilakukan di 11 wilayah dengan dukungan sedikitnya 714 personel. Tercatat seluas 40,9 hektare berhasil ditangani hingga Minggu (23/8). Di wilayah Kalimantan Timur, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kabupaten Kutai Barat pada Minggu (23/8) sekitar pukul 11.50 WITA. Kebakaran terjadi di Desa Kinong, Kecamatan Damai, dengan luas lahan terbakar sekitar 10 hektare. BPBD Kabupaten Kutai Barat bersama unsur terkait melakukan asesmen dan pemadaman darat. Api telah berhasil dipadamkan pada hari yang sama.