Darilaut - Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat kapasitas akademisi dalam bidang kesehatan dan kebencanaan. Kompetensi ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana serta percepatan pemulihan wilayah terdampak. Penguatan kapasitas ini salah satunya dengan keikutsertaan akademisi UNG dalam penanggulangan bencana melalui penyelenggaraan Training of Facilitator (ToF) Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) tahun 2026 yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebanyak 40 peserta terpilih mengikuti pelatihan tersebut setelah melalui proses seleksi yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB. Para peserta berasal dari berbagai instansi strategis, meliputi BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), serta unsur akademisi. Di antara puluhan peserta yang berasal dari berbagai lembaga tersebut, UNG satu-satunya perguruan tinggi yang dipercaya mengikuti pelatihan nasional ini. UNG diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Kedokteran, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, sekaligus sebagai ketua divisi kebencanaan Pusat Studi Kedokteran, Kesehatan, dan Kebencanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNG. Keikutsertaan UNG menjadi pengakuan terhadap kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung agenda nasional penguatan kapasitas penanggulangan bencana. Di tengah meningkatnya tantangan bencana di Indonesia, keterlibatan akademisi dinilai penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam menghasilkan kebijakan maupun praktik penanggulangan bencana yang berbasis ilmu pengetahuan. Selama lima hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembekalan komprehensif mengenai manajemen pemulihan pascabencana, konsep dan metodologi pengkajian kebutuhan pascabencana, teknik pengumpulan dan analisis data lintas sektor, pembelajaran orang dewasa (adult learning), teknik fasilitasi, hingga praktik microteaching. Seluruh materi dirancang untuk menghasilkan fasilitator yang mampu mendampingi pemerintah pusat maupun daerah dalam menyusun dokumen pengkajian kebutuhan pascabencana secara sistematis, akurat, dan sesuai standar nasional. Melalui sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan lembaga penanggulangan bencana, diharapkan lahir lebih banyak inovasi, kolaborasi, dan sumber daya manusia yang mampu mendukung terwujudnya sistem penanggulangan bencana nasional yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini berlangsung 6–10 Juli 2026 di Training Center Ina-DRTG BNPB, Bogor, Jawa Barat, menjadi bagian dari strategi nasional untuk menyiapkan fasilitator yang kompeten dalam mendukung proses pengkajian kebutuhan pascabencana sebagai dasar penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi di Indonesia.