Waspadai Musim Kemarau, Air Sangat Penting di Tengah Pandemi Virus Corona

Pengaturan distribusi air dan melakukan kampanye hemat air penting dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat musim kemarau. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Kebutuhan air sangat penting khususnya di tengah pandemi virus corona, SARS-CoV-2, penyebab penyakit Covid-19. Apalagi, panduan kesehatan mensyaratkan setiap individu untuk mencuci tangan dengan sabun.

Air menjadi salah satu media penting untuk mematikan virus SARS-CoV-2. Tak hanya untuk kepentingan itu, air juga dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memonitor informasi iklim dan cuaca di tengah masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Menindaklanjuti informasi tersebut, BNPB meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah seluruh Indonesia waspada.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada Mei hingga puncaknya di Agustus.

Dalam surat kepada BPBD, Sabtu (27/5), Lilik meminta kerja sama BPBD untuk melakukan upaya-upaya antisipatif dalam menghadapi ancaman bahaya kekeringan dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Kepada pemerintah di daerah juga diminta untuk melakukan langkah-langkah penguatan kesiapsiagaan, baik untuk masyarakat dan pemerintah, menghadapi kemarau yang berdampak pada ancaman kekeringan.

Lilik mengatakan, perlu untuk menyiapkan logistik dan peralatan, seperti tangka air bersih, penyediaan pompa air di tiap kecamatan, serta memprioritaskan pada wilayah terdampak kekeringan.

Upaya preventif lain, kata Lilik, pemerintah daerah melakukan kampanye hemat air dengan memanen air hujan dan memanfaatkan air limbah rumah tangga yang relative bersih untuk dapat digunakan kembali.

Selain itu, melakukan koordinasi multipihak dalam penyiapan alternatif kebijakan pemenuhan kebutuhan air di masyarakat melalui penyiapan sumur bor dan pengaturan distribusi air.
BNPB mengidentifikasi wilayah administrasi di tingkat kabupaten dan kota yang berpotensi rawan bencana kekeringan pada puncak musim kemarau Agustus 2020.

Identifikasi ini merujuk pada intensitas curah hujan kurang dari 100 mm tersebut berdasarkan indeks risiko bencana Indonesia (IRBI).

Terdapat sebanyak 189 wilayah di 15 provinsi memiliki tingkat risiko dengan kategori sedang hingga tinggi, 162 kabupaten dan kota berada di kateogri tinggi dan sisanya pada kategori sedang.

Sebelumnya, Profesor Riset Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ignasius Dwi Atmana Sutapa mengatakan, akibat perubahan iklim, Indonesia diperkirakan akan menderita dampak kenaikan muka air laut.

Selain itu, setidaknya terdapat lima dampak penting yang terjadi akibat perubahan iklim yaitu pencemaran air, hilangnya keanekaragaman hayati, kekurangan air bersih dan sanitasi, kekeringan dan banjir, serta konflik air.

Ignasius mengatakan, apabila air tidak dikelola dengan baik maka suatu saat akan terjadi bencana karena air adalah aset yang sangat penting. Sumber daya air bisa dikatakan tidak tak terbatas.

Menurut Ignasius, jumlah air tetap, akan tetapi kebutuhan akan air semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kualitas air yang semakin menurun dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh aktifitas manusia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal mengatakan, masyarakat perlu menjaga kesehatan dan stamina sehingga tidak terjadi dehidrasi dan iritasi kulit. Banyak minum dan makan buah segar sangat dianjurkan, termasuk memakai tabir surya sehingga tidak terpapar langsung sinar matahari yang berlebih dan lebih banyak berdiam dirumah pada saat pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).*

Exit mobile version