“Terima kasih karena telah membuka jalan, membimbing dengan sabar dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh dan bermimpi lebih tinggi. Kesuksesan ini bukan hanya milik kami sebagai wisudawan, tetapi juga buah doa dan dukungan keluarga serta bimbingan dosen,” ujarnya.
Nurlia adalah putri seorang penjual bensin eceran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, sebuah pencapaian yang mungkin dulu terasa begitu jauh dari jangkauannya.
Lahir dari keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai penjual bahan bahan bakar eceran, sementara ibunya setia menjaga rumah serta mendoakan anak-anaknya.
“Dari mereka, saya belajar arti kerja keras, kejujuran, dan keteguhan hati. Dengan kondisi ini, saya tidak hanya berjuang dalam akademik sebagai mahasiswa UNG, namun juga berjuang menepis keterbatasan,” ujarnya.
Perjalanan menuju toga sarjana bukan perkara mudah. Di balik peluh ayahnya yang berjuang mencari nafkah dan doa ibu yang tak pernah putus, ia menapaki jalan pendidikan dengan penuh keyakinan.
Nurlia menanam dalam dirinya sebuah harapan besar: bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.
“Dengan keterbatasan ekonomi, saya ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhanapun bisa berdiri sejajar bahkan menjadi yang terbaik jika dibarengi dengan tekad dan doa,” ujarnya




