Peristiwa berulang ini menegaskan bahwa ”krisis ekologis Danau Limboto bukan lagi ancaman laten,” kata Indri, melainkan kenyataan yang mengganggu keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai lembaga yang memiliki tanggung jawab ilmiah dan sosial, UMGO melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dan Pusat Kajian Sosio-Ekologi Danau Limboto menegaskan komitmennya untuk menjadi leading university dalam penyelamatan Danau Limboto.
Komitmen ini, menurut Indri, melalui penelitian lintas disiplin, seminar internasional yang berfokus pada penyelamatan danau, program pengabdian masyarakat, serial edukasi lingkungan, serta forum koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Upaya ini tidak dilakukan sendirian, tetapi dijalankan melalui kolaborasi erat bersama mitra strategis seperti JICA, FORDAS, BPDAS, BWS, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, SalamPuan, serta berbagai organisasi masyarakat, kata Indri.
Indri mengatakan isu-isu penting yang menjadi perhatian dalam kolaborasi ini meliputi edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, penguatan ekonomi masyarakat sekitar danau, serta kajian sedimentasi. Semua itu dipadukan dalam pendekatan riset dan aksi nyata yang bertujuan menghadirkan solusi berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesadaran publik bahwa penyelamatan danau adalah penyelamatan kehidupan.




