Tim Ekspedisi Indonesia PRIMA ke Samudera Hindia dengan Kapal Baruna Jaya I

FOTO: BMKG

Jakarta – Tim ekspedisi Indonesia PRIMA (Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis) mulai melakukan pelayaran ke Samudera Hindia dengan menggunakan kapal Baruna Jaya I. Kapal milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berlayar sejak 12 November hingga 10 Desember 2019.

Pelepasan tim ekspedisi ini dipimpin langsung Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati.

Menurut Dwikorita, kegiatan Indonesia PRIMA 2019 bertujuan untuk merawat RAMA buoy, melakukan pengamatan meteorologi maritim, oseanografi, klimatologi, kualitas udara, serta pengamatan udara atas.

“Melalui kegiatan ekspedisi Indonesia PRIMA ini, kita berharap data-data mengenai meteorologi maritim, oseanografi, dan klimatologi dapat terkumpul dengan baik dan dapat dianalisis serta dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk ilmu pengetahuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” katanya.

Kegiatan Indonesia PRIMA, merupakan kerjasama multiyear antara BMKG – NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) yang sudah berlangsung selama 5 tahun, dan telah menghasilkan beberapa hasil penelitian yang telah disampaikan pada workshop tahunan BMKG – NOAA.

Ekspedisi Indonesia PRIMA kali ini dengan tema “Observation to Understand the Complexity of Our Changing Oceans”. Tim ekspedisi beranggotakan 15 orang yang terdiri dari 2 pakar kelautan NOAA, 12 personil/peneliti BMKG, 3 perwakilan dari akademisi, dan 4 peneliti BPPT.

Ekspedisi ini difokuskan untuk melakukan perbaikan pada Bouy dengan nomor ID RA163A, RT026, RT027, RA165A dan melepaskan 4 Bouy baru di Sekitar Samudera Hindia. Sistem terbaru pada bouy yang akan menyertakan sistem pengamatan karbon dioksida (CO2) di wilayah laut.

Dengan sistem tersebut, identifikasi sinking dan source CO dari wilayah Samudera Hindia akan diidentifikasi dengan lebih baik. Diharapkan ekspedisi ini dapat menjadi wadah untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan dari NOAA ke BMKG.

“Kalau sering bekerja sama dan melakukan analisis bersama dengan NOAA, nantinya akan berimbas pada pengembangan kapasitas dan pengalaman BMKG dalam menganalisis kondisi iklim dan cuaca,” ujarnya.

Selama pelayaran ini, diharapkan juga ada pengumpulan data untuk validasi data terkait pemodelan, proyeksi, dan prakiraan iklim dan cuaca yang telah kita lakukan selama ini

“Pemodelan kita perlu divalidasi, kalau tidak ada Indonesia PRIMA kita kesulitan untuk memvalidasinya,” kata Dwikorita.

Pelepasan tim ekspedisi berlangsung di ruang Auditorium BMKG Kemayoran, Jakarta, Senin (11/11). Pelepasan dihadiri Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT, Yudi Anantasena, Deputi Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Dr Safri Burhanuddin, serta perwakilan dari Science and Marine Officer US Embassy, Elisabeth Walton.*

Exit mobile version