Apa Kabar Ikan Raja Laut?

VERRIANTO MADJOWA

Jpeg

LAMA tak terdengar, ternyata ikan purba raja laut, yang menarik perhatian banyak kalangan pada dua dekade lalu, telah tercemar sampah plastik. Prof. Dr. Markus T. Lasut, M.Sc, dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), mengatakan bahwa, “Secara tidak disengaja, telah ditemukan plastik di dalam usus besar spesimen fosil hidup ikan raja laut, Latimeria menadoensis.”

Sebagai salah satu bentuk dan upaya mitigasi terhadap polusi sampah plastik di Indonesia, pada Kamis 23 November 2017, dilaksanakan workshop terkait hal itu di aula FPIK-Unsrat. Ikan raja laut (coelacanth) disebut sebagai fosil hidup atau ikan purba. Disebut fosil hidup karena tidak berubah sejak 400 juta tahun lalu itu. Ikan ini, menjadi populer setelah ditemukan di Pulau Manado Tua, pada 1997 dan 1998.

Pandangan Wallace tentang Geologi Celebes

Pembaca yang budiman, sebelum mengurai kembali temuan ikan raja laut, sejenak kita membuka catatan-catatan naturalis Alfred Russel Wallace di Celebes (Sulawesi) satu setengah abad lalu. Bagi seorang ahli geologi, Wallace menjelaskan, apabila mengadakan eksplorasi di permukaan bumi, ia dapat membaca masa lampau bumi dan dapat memperkirakan gerakan terakhir, ke atas atau ke bawah permukaan laut.

Tetapi bila seorang ahli geologi berada di samudera dengan hamparan laut, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menduga-duga sejarah tempat tersebut berdasarkan data yang terbatas. Dalam hal ini naturalis dapat membantu dan memungkinkan ahli geologi mendapatkan jawaban tentang sejarah bumi ini.

Tentunya, kondisi seperti yang disebutkan Wallace berbeda dengan sekarang. Meski tetap ada keterbatasan dalam melakukan penjelajahan dan eksplorasi bawah laut, kondisi sekarang sudah banyak kemajuan dalam melakukan eksplorasi bawah laut.

Dari sekian banyak gagasan yang telah dituliskan Wallace, yang jarang dikutip tentang keberadaan Celebes yang bisa jadi merupakan salah satu bagian tertua dari Kepulauan Nusantara. Wallace menjelaskan bahwa kemungkinan besar Celebes terbentuk bukan hanya sebelum pemisahan Sumatera, Borneo dan Jawa dari benua Asia, tetapi dari periode yang lebih jauh lagi di masa lampau, saat daratan yang membentuk ketiga pulau tersebut belum naik ke atas permukaan laut.

Umur Celebes yang sangat tua, menurut Wallace, penting untuk dikaitkan dengan bentuk-bentuk hewan di pulau Celebes yang tidak menunjukkan persamaan dengan karakteristik India atau Australia, tetapi lebih dekat dengan Afrika.

Manado Tua dan Ikan Raja Laut

PULAU Manado Tua, terletak di dalam kawasan Taman Nasional Bunaken, di Laut Sulawesi. Pulau ini memiliki gua-gua vulkanik di bawah laut. Banyak jenis ikan di terumbu karang dan yang hidup di kedalaman 80 sampai 100 meter dapat dijangkau dengan jaring.

September 1997, ikan raja laut ini masuk ke jaring nelayan di Pulau Manado Tua, Lameh Sonathan. Ikan itu kemudian dijual di Pasar Bersehati Manado dan dibeli Rp 25 ribu. Nama ikan raja laut merupakan sebutan tibo-tibo (pedagang ikan) yang sering membeli hasil tangkapan Lameh.

Selanjutnya, keluarga Lameh didatangi peneliti Dr. Mark V. Erdmann. Foto ikan raja laut dibawa Erdmann, seperti yang dijual September 1997 di pasar Bersehati. Kemudian, Erdmann memberikan alamatnya di sebuah cottage di Pangalisang. Selain Lameh, tetangganya Maxon, yang juga nelayan menerima foto tersebut.

Awal tahun 1998, Erdmann menerima dana penelitian dari National Geographics untuk meneliti keberadaan Coelecanth di Sulawesi Utara. Erdmann mewawancarai 200 nelayan dan yang mengaku pernah melihat ikan itu, hanya empat orang.

Ada yang memberi nama ikan raja laut, ada juga yang menyebut ikan cede. Ikan cede dengan nama ilmiah Ruvettus pretiosus ternyata bukan coelecanth. Tapi, ikan ini diduga menjadi indikator keberadaan Coelecanth di perairan dalam.

Pada 29 Juli malam, Lameh dan anaknya Charles melaut. Jaring dilepas dengan menggunakan pemberat ke perairan dalam. Ikan raja laut masuk dalam jaring. Ikan ini ditangkap di perairan depan kampung Papindaang, Desa Manado Tua I, di kedalaman 80 meter.

Tiba di rumah, ikan itu dicocokkan dengan foto pemberian Erdmann. Rupa ikan itu mirip dengan yang ada di foto. Bergegaslah Lameh dan Charles menuju ke tempat tinggal Erdmann di Pangalisang pada 30 Juli. Ikan yang dibawa Lameh memiliki panjang 1,24 meter dan berat 29 kilogram.

Pada 30 Juli 1998, Erdmann baru bisa memastikan bahwa Coelecanth memang ada di Sulawesi Utara. Setelah Erdmann mengidentifikasi dan mempopulerkan ikan raja laut dari Manado Tua, banyak turis yang menanyakan ikan itu.

Setelah temuan ikan itu, kampanye pelestarian ikan raja laut dilakukan, juga pertemuan dengan Balai Taman Nasional Bunaken dan pengusaha jasa wisata selam. Ikan purba ini menjadi perhatian ilmuwan kelautan. Peneliti dan turis ingin melihat dan membeli ikan itu, dengan harga tinggi.

Exit mobile version