Jalan Menuju Penanganan Perubahan Iklim  (1)

PROF DR EDVIN ALDRIAN

Habibie Award

FOTO: TWITTER/@HABIBIECENTER

“Hasil studi menunjukkan bahwa tidak mungkin hanya melihat hasil simulasi atmosfer dan daratan tanpa memasukkan dinamika dari laut.”

Membangun Fondasi

Moto dalam menghadapi permasalahan perubahan iklim adalah common but differentiated responsibility. Permasalahan global yang diakibatkan fenomena global warming terjadi secara global, tetapi memiliki kasus yang sangat lokal dan kasuistik.

Karena itu, diperlukan kerjasama secara komunal untuk membangun kapasitas secara global dengan ciri karakter lokal yang berbeda-beda. Bidang ilmu yang diperlukan tidak terbatas hanya pada ilmu iklim, melainkan meluas ke dalam seluruh aspek kehidupan.

Seyogyanya setiap manusia dalam aktivitas kehidupannya sejak bangun tidur di pagi hari, hingga saat tidur kembali di malam hari, akan terus terkait ke dalam isu permasalahan perubahan iklim. Secara nyata perubahan iklim adalah masalah terbesar saat ini, dimana aktivitas manusia secara nyata memberikan kontribusi langsung terhadap intensitas terjadinya.

Walau demikian, ilmu cuaca dan iklim tetap menjadi dasar acuan perubahan iklim karena menggambarkan apa yang terjadi sebenarnya secara lokal. Aplikasi pada dampak yang terlihat secara cuaca dan iklim akan diimplementasikan dalam kebijakan mengenai dampak secara adaptif dan mengenai penyebab secara mitigatif.

Maka, jadilah iklim sebagai ilmu yang harus dipahami secara dasar dan diterapkan dalam aplikasi yang penuh diantar oleh berbagai rekayasa yang penuh inovasi. Di luar dari pengetahuan umum, ilmu cuaca dan iklim tidak hanya untuk dipahami atas fenomena yang hanya terjadi di atmosfer, tetapi juga di darat dan di badan air seperti laut atau badan air di darat.

Apa yang disampaikan dalam pemaparan ini adalah sebuah perjalanan seorang peneliti dalam memahami peran dalam bidang perubahan iklim. Sebagai seorang yang mengidolakan Bapak Habibie dalam hal dunia saintifik sejak kecil. Seorang dengan riwayat nyata penelitian yang dalam arti sebenarnya telah saya alami sejak tamat SMU sekitar 30 tahun lalu.

Sudah sedemikian banyak penelitian di udara, darat, sungai, hutan dan laut yang sudah didalami. Cerita dibawah ini menyampaikan sebuah riwayat hidup seseorang sebagai peneliti dan fungsinya dalam bidang rekayasa. Beberapa hal yang disampaikan menyangkut riwayat rekayasa komputasi, rekayasa instrumentasi, rekayasa sosial, resiliensi kultural, rekayasa kerjasama dan rekayasa kebijakan.

Rekayasa Komputasi

Semua kemajuan dalam dunia komputasi tidak akan lepas dari rekayasa komputasi. Hal ini dibutuhkan untuk mengisi kekosongan data dan melakukan simulasi teori yang lebih komprehensif. Keunggulan rekayasa komputasi dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Proyeksi dampak ke depan dari perubahan iklim yang menjadi sangat populer saat ini dilakukan dengan rekayasa komputasi dan dikenal sebagai skenario modeling. Untuk melakukan rekayasa komputasi pada benua maritim Indonesia, dibutuhkan sebuah teknik khusus dalam perekayasaannya.

Di benua maritim, kebutuhan simulasi darat dan laut sama pentingnya. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak mungkin hanya melihat hasil simulasi atmosfer dan daratan tanpa memasukkan dinamika dari laut.

Biasanya, simulasi laut memakai batas atmosfer sebagai sesuatu yang terpisah. Untuk benua maritim Indonesia, kedua dunia tersebut haruslah dipadukan dan diupayakan berjalan seiring dalam sebuah simulasi secara online. Data dari kedua simulasi, yaitu atmosfir darat dan simulasi laut akan dipertukarkan pada selang waktu dan pada parameter tertentu.

Butuh teknik komputasi khusus agar rekayasa komputing tersebut dapat berjalan dalam 3 simulasi, yaitu simulasi atmosfer darat, simulasi laut dan media pertukaran data. Hasil dari rekayasa komputasi tersebut menunjukkan perbaikan hasil simulasi dibandingkan dengan data observasi.

Rekayasa komputasi pada akhirnya harus dapat dijalankan pada sistim komputasi yang mumpuni di kondisi lokal, bukan hanya memakai super komputer yang dapat bekerja hanya di negara maju.

Diperlukan waktu 4 tahun sejak setelah menyelesaikan PhD agar rekayasa komputasi di atas dapat dijalankan di komputer lokal. Hasil rekayasa komputasi tersebut telah digunakan di Malaysia untuk metoda pembelajaran sistim pertukaran data secara online antar berbagai simulasi iklim.

Rekayasa komputasi dalam cerita ini masih belum dapat dimanfaatkan lebih lanjut di dunia akademisi di Indonesia hingga saat ini karena masih belum adanya kebutuhan.

Prof Dr Edvin Aldrian BEng MSc adalah profesor bidang meteorologi dan klimatologi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pada 13 November menerima Penganugerahan Habibie Award Periode XX – Tahun 2018 dari Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM-Iptek) The Habibie Center bidang ilmu rekayasa. Tulisan ini dalam rangka penerimaan penghargaan Habibie Award 2018 untuk bidang Ilmu Rekayasa.

Exit mobile version