Oleh: Fadli H. Alamri, Pemerhati Transformasi Sosial Keagamaan
Sejak remaja Siti Hajar telah menjadi yatim piatu, ayahnya kepala suku di wilayah padang pasir meninggal dunia bersama seluruh kerabatnya dari serangan bangsa Utara. Awalnya di perkampungan Col Mirleri terasa adem dan tentram yang terkenal menjamu tamu dan kedermawanannya, sampai kedatangan duta dari kerajaan Utara yang mengarahkan penyerangan dan membumi hanguskan perkampungan.
Utusan yang berkunjung tersebut dilayani dengan baik bahkan diobati oleh para tabib yang diundang oleh ayahnya Siti Hajar untuk mengeluarkan racun ular dalam tubuhnya. Akan tetapi, kebaikan dibalas dengan pembantian dan pembunuhan seluruh keluarga dan kerabat, hanya tersisa Hajar yang masih remaja diangkut dengan kapal bersama tawananan lainnya ke kerajaan Utara untuk dijadikan budak.
Sebagai putri bangsawan (princess) dari kabilah Col Milreri sangat terpukul akan kejadian penyerangan yang menimpa seluruh kerabatnya. Peristiwa yang menimpa Hajar membawa kepada kedewasaan yang masih di usia remaja. Dengan keteguhan sekuat besi dan penuh keyakinan, berkat kemuliaan dan kemenangan hanyalah milik Allah SWT.
Kabilah Col Milreri yang terdiri dari tujuh puluh dua perkampungan merupakan daerah yang strategis jalur perdagangan dan tempat singgah para musafir dan pedagang yang singgah untuk beristirahat, menjadi tempat bermain dan masa yang indah dalam kehidupan remaja Hajar.
Kerajaan Utara yang dipimpin Awameleh tidak mengenal agama hanif, seluruh rakyatnya tunduk dan patuh dengan kemuliaan saja kepada Awameleh. Menjadi kebiasaan kerajaan Utara tawanan putri bangsawan dipersembahkan kepada raja yang haus akan hawa nafsu, sesuka hati dengan kesenangan duniawi.
Sebelum diserahkan ke raja Utara terlebih dahulu Hajar yang masih remaja diajari cara melayani, bahasa dan tradisi kerajaan untuk dipersiapkan ke hadapan Awameleh, dalam kerajaan tersebut telah terkumpul sebanyak mungkin perempuan yang menjadi tawanan yang tinggal di asrama untuk dilatih melayani para pejabat maupun tamu kerajaan.
Menjadi Asisten Siti Sarah
Skenario Tuhan mengatakan lain. Hajar muda telah disiapkan untuk raja Utara oleh pengurus asrama. Namun salah satu petugas perempuan pengurus asrama merasa iba dan simpatik dengan keadaan Siti Hajar yang dikenalnya sebagai princess dengan tanda bunga lotus di pundaknya.
Tanda bunga lotus tersebut hampir sama dengan tanda yang dimiliki oleh pengasuh tersebut yang dulu menjadi tawanan yang diperdaya oleh Awameleh. Ia tidak mau Siti hajar menjadi seperti dirinya yang masih cantik dan muda, menjadi selir raja dan setelah tua nanti dicampakkan seperti dirinya.
Suatu hari rombongan Nabi Ibrahim melewati kerajaan Utara, dihadang oleh para penjaga perbatasan, seperti biasanya apabila dalam rombomgan tersebut ada perempuan cantik ditawan dan akan dipersembahkan ke hadapan Awameleh.
Siti Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang pertama memiliki paras yang cantik dan sempurna, aromanya begitu wangi bagai bunga melati, kulitnya begitu putih dan lembut sehingga air buah delima yang diminumnya pun seolah masih terlihat berwarna merah saat diminumnya, betapa indah kedua matanya hijau seperti zamrut.
Untuk sementara waktu Siti Sarah di tempatkan oleh penjaga istana di asarma harem bersama perempuan lainnya termasuk Siti Hajar. Disinilah perjumpaan kedua perempuan suci, dan istimewa yang menjaga agama yang hanif yakin hanya kepada Allah semata.
Namun sayang sekali, berita tentang kecantikan Siti Sarah telah sampai pada telinga raja begitu cepat. Sehingga Awameleh memerintahkan agar Siti Sarah segera diantarkan di istana secepatnya.
Pengurus asrama harem yang iba dan bersimpatik mengajarkan banyak hal kepada Siti Hajar, bergerak cepat dan mengatur strategi agar Hajar dapat keluar dari wilayah kerajaan Utara dengan membuat skenario bahwa Hajar adalah pembantu Sarah.
Sebelum diantarkan ke raja Utara yang penuh nafsu dan bejat, Siti Sarah menerima langsung ajaran agama dari Nabi Ibrahim yang imannya sangat kuat, memberikan nasihat dan penguatan iman kepada Siti Hajar untuk menghadapi persoalan ini dengan penuh keyakinan insya Allah kita akan selamat. Ketahuilah bahwa Allah Maha Agung, Maha Penolong.
Dialah yang menakdirkan Nabi Ibrahim tidak terbakar di dalam kobaran api, insya Allah Dia juga akan menyelamatkan dengan penuh keyakinan, nasihat Sarah kepada Hajar. Pada kesempatan ini, Siti Sarah memberikan pelajaran penting akan keEsaan Allah (tauhid) dan menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah rasul Allah.
Setelah tiba dan masuk di dalam istana Siti Sarah dan Siti Hajar memakai pakaian dengan menutup aurat (jubah/gamis) dan duduk bersimpuh di atas karpet. Raja Awameleh yang penuh nafsu ingin membuka cadar Siti Sarah. Saat itu pula dirasakan tangannya seperti tersengat aliran listrik, sebanyak tiga kali raja Awameleh berusaha melakukan perbuatan hina, dan sebanyak tiga kali pula tangannya terbakar aliran lsitrik, serta tiga kali juga memohon maaf, meminta agar tangannya dikembalikan seperti sedia kala. Akan tetapi, ia kalah akan bujukan hawa nafsunya sehingga tiga kali ia mengingkari janjinya.
Raja Awameleh akhirnya menyerah, menganggap Siti Sarah adalah tukang sihir dan pembawa sial di istana, dan memerintahkan untuk segera keluar dari negaranya secepat-cepatnya. Bahkan raja memerintah kepada pembantunya memberikan hadiah sebanyak-banyaknya untuk Sarah, keluarga dan kerabatnya agar raja merasa benar-benar terhindar dari bencana.
Pengurus harem yang senantiasa peduli kepada Hajar mengantarkan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim di perbatasan wilayah kerajaan Utara mengamanahkan Hajar kepada Nabi Ibrahim.
Hijrah Bersama Nabi Ibrahim AS
Setelah meninggalkan kerajaan Utara, Sarah, Nabi Ibrahim dan kaumnya, senantiasa berpindah-pindah satu tempat ke tempat yang lain. Mereka hidup nomaden dengan mendirikan tenda setiap petang tiba, melipatnya kembali setelah matahari terbit dengan semangat membara untuk berjalan dan terus berjalan.
Inilah takdir yang telah dititahkan bagi mereka, kehidupan yang harus mereka luangkan dalam perjalanan sebagai perintah Ilahi, kehidupan berat seperti ini dianggap biasa karena setiap hari mereka menjalaninya. Setiap orang yang baiat kepada Nabi Ibrahim dapat menjalankan kehidupan teratur, harmonis, saling membantu dan melayani dari anak-anak sampai yang lanjut usia (lansia).
Di sepanjang perjalanan selain Nabi Ibrahim dan istrinya Sarah yang menjadi panutan semua orang dalam rombongan, ada Nabi Luth (saat itu belum menjadi Nabi) beserta istrinya yang masih muda.
Mereka adalah sosok paling dihormati dan disegani. Nabi Luth yang merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS yang disayangi dan dibanggakan.
Hampir setiap kali singgah di suatu tempat, semakin banyak kaum mengikuti ajaran dan menjadi mukmin, kebanyakan akan ikut perjalanan bersama Nabi Ibrahim. Sampai akhirnya, jumlah rombongan cukup banyak, Nabi Luth ditugaskan menetap di Kota Sodom dan Gomora.
Nabi Luth seorang pemuda telah mendapatkan pengajaran langsung dari Nabi Ibrahim, seorang yang berakhlak mulia dan tegas dalam keimanannya, seorang mubaliq yang kata-katanya didengarkan, menegakkan keadilan dan senang berbuat amal kebaikan, Nabi Ibrahim menugaskannya berdakwah kepada bangsa Sodom dan Gomora dan diangkat menjadi Nabi oleh Allah.
Di sisi lain, Siti Sarah selalu mengajarkan Hajar akan dasar-dasar ajaran agama dengan penuh kesungguhan dan perhatian. Sebagian besar waktunya diluangkan untuk Hajar dan mengobati sisa luka didalam hatinya serta menata hatinya memiliki harapan hidup.
Hajar mendapatkan kesempatan untuk mengabdi dan melayani Siti Sarah dan Nabi Ibrahim. Usia Nabi Ibrahim dan Siti Sarah tidak muda lagi, akan tetapi belum mendapatkan seorang anak yang diharapkan akan menjadi penerus risalah kenabian.
Hari berganti hari, bulan bergarti bulan kerinduan akan seorang anak yang dirasakan Nabi Ibrahim dan Siti Sarah, yang akhirnya meminta Siti Hajar untuk dinikahkan dengan Nabi Ibrahim. Setelah ditempa pendidikan agama, akhlak yang saleh maka berlangsunglah pernikahan Siti Hajar dengan Nabi Ibrahim AS.
Dalam pernikahan ini, Siti Hajar dan Nabi Ibrahim dikarunia seorang anak bernama Ismail yang nantinya akan menjadi seorang nabi. Ismail kecil telah memberikan kebahagian tersendiri bagi Siti Hajar, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah sebagai manusia yang menjalani bumbu-bumbu kehidupan.
Kodrat lain, setelah sekian tahun menetap d Kanaan, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar berjalan dengan perjalan yang cukup jauh bersama bayinya Ismail menuju tempat yang belum di ketahui.
Pengorbanan dan Kesabaran Siti Hajar
Bermingu-minggu lamanya menempuh perjalanan mengikuti arah takdir yang dititahkah kepada Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Setelah melewati banyak perkampungan, pemukiman dan lembah-lembah luas dengan bukit-bukit yang curam, gurun pasir yang luas dan tak berpenghujung ditambah dengan terik matahari. Mereka berjalan tanpa bicara satu kata pun, ditambah lagi jarak antara mereka tidak saling berdekatan, Nabi Ibrahim di depan sendirian sedangkan Siti Hajar dan Ismail bersama.
Pada suatu hari, dalam perjalanan, Ismail yang masih dalam gendongan ibunya menangis, seolah-olah merasakan ibundanya sedang dalam guncangan kesendirian, guncangan pemikiran dan perasaan, wajahnya pucat, Ia butuh air minum.
Namun, air, sama sekali sudah tidak ada dengan tetap mencari dan mencari. Barangkali masih ada sedikit air dalam tumpukan barang-barang perbekalan. Mendengar tangisan Ismail, saat itulah Nabi Ibrahim memperlambat laju untanya melihat istrinya begitu panik dan langsung mendekat ke arah Hajar tanpa berkata sekata pun, mengulurkan botol air yang dibawanya.
Di dalamnya masih ada tersisa sedikit air, Siti Hajar meminum sedikit dan dibasahi wajah dan leher anaknya, dan Ismail kembali tenang. Sepintah wajah Nabi Ibrahim terlihat begitu sedih dan seketika kembali memalingkan wajahnya melanjutkan perjalanan tanpa sepatah kata.
Siti Hajar terus berdoa segala puji dan syukur aku panjatkan kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan anakku yang Maha Mendengar dan Maha Menyayangi, Sungguh, Dialah Allah, yang selamanya tidak akan pernah meninggalkanku dan putraku, kalaulah memang kenyataan kehidupan adalah seperti ini, biarlah semuanya berjalan seperti apa adanya. disinilah letak kepasrahan dan kesabaran.
Tibalah di tempat tujuan dari perjalanan yang panjang di pinggir sebuah reruntuhan bangunan yang sudah lama sekali ditinggalkan. Yang mengesankan Nabi Ibrahim beranjak pergi dengan menaiki untanya, berarti meninggalkan istri dan anaknya di tengah-tengah gurun pasir tak berpenghuni.
Dengan sedikit keberanian Hajar menanyakan beberapa hal, apakah engkau akan meninggalkan kami sendirian di sini? Tanpa jawaban tidak ada suara, bahkan nabi Ibrahim semakin teguh beranjak pergi, mengapa engkau meninggalkan kami di sini? bagaimana nasib kami sendirian di tengah-tengah gurun tak berpenghuni ini?
Nabi Ibrahim tidak menjawab, bahkan, beliau telah mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Apakah keputusan engkau meninggalkan kami di tengah-tengah gurun pasir tak berpenghuni ini adalah karena perintah Allah? Benar, aku meninggalkan kalian di sini karena perintah Allah. Pada pertanyaan ketiga barulah Nabi Ibrahim berbicara sejak dari Kanaan menuju Bakkah (Mekkah).
Keadaan sunyi senyap. Perasaan Siti Hajar bercampur dengan rasa sedih, pedih ditinggalkan oleh sang kekasih yang dicintainya, yang membimbing dari remaja sampai menikah dan dikaruniai seorang anak. Ditinggalkan sendirian di padang pasir tanpa ada penghuni.
Dalam renungannya, mungkinkah jerih payah menyeberangi hamparan gurun pasir, melewati tepi lautan pasir pada kerelaaan hati? Saat itulah ia menyadari bagaikan sebuah pulau kecil di tengah-tengah lautan. sebuah pulau batu kecil yang berada di tengah lautan takdir, takdir kepedihan, titah yang telah digariskan sebagai Hajar sebagai batu hitam yang kelam oleh linangan air mata, sungguh tidak sia-sia Ia diberi nama Hajar (batu).
Sungguh, dalam hamparan gurun pasir yang gersang tak berpenghuni hanya ada ibu dan anak tersayang tinggal di antara dua bukit. Ismail menangis kehausan, Siti Hajar bangkit segera berbuat sesuatu.
Berlari dengan semangat ke arah perbukitan, siapa tahu di sana mendapatkan air. Duhai Allah, tunjukanlah jalan bagiku demi kasih sayangMu terhadap bayi yang tak berdosa ini, perkenankanlah Engkau memberikan barang seteguk air kepada kami, Tunjukanlah jalan kepadaku untuk mendapatkannya.
Ibunda Hajar dengan nafas terengah-engah berlari mencapai puncak bukit. Namun, Ketika melihat di sekiliing dan dari ketinggian bukit, sama sekali tidak mendapatkan pertanda adanya orang atau air.
Ia meninggalkan Ismail sendirian dan semakin tidak kuat hatinya menahan pedih. Bayinya semakin meronta, menangis sejadi-jadinya karena kehausan. Ia terus berlari di bawah terik matahari gurun pasir berharap menemukan air meskipun hanya sedikit. Harapan di seberang bukit yang satunya lagi, ia menuju dan berharap akan air untuk anaknya. Tapi tidak mendapatkan air yang dibutuhkan.
Dengan penuh pengorbanan Siti Hajar berusaha naik bukit yang dikenal dengan bukit Safa dan berlari (Sai) ke bukit Marwah secara bolak balik sampai tujuh kali berharap pertolongan dan mencari air untuk bayinya.
Sampai kemudian ia kaget ada suara yang menanyakan siapa namanya di sekeliling bukit, dan menanyakan kepada siapa suami dan Nabimu Ibrahim meninggalkanmu? Dia meninggalkanku kepada Allah jawab bunda Hajar, setelah diperhatikan suara itu dekat dengan Ismail dan saat itu pula terpancar cahaya yang berkilau dan Ismail tersenyum, berarti pertanda keadaanya baik. Ismail menggerak-gerakkan kedua tangannya ke udara dan mengetuk-ngetukkan kedua tumitnya ke dalam pasir, saat itu pula terdengar dari kejauhan seperti suara yang mengalir.
Atas kuasa Allah hamparan pasir terbelah menjadi tiga belahan, betapa bahagia dirasakan Siti Hajar saat melihat ada air yang mengalir dari belahan tanah pasir, bahkan derasnya air itu mengalir hingga membuat genangan.
Segala doa dan pujian dipanjatkan rasa syukur kepada Zat yang Maha Kuasa atas segalanya. Air yang mengalir dengan deras di bekas ketukan kedua tumit Ismail dibuat kubangan agar air berkumpul dan tidak meresap kembali ke dalam tanah pasir dengan kedua tangannya.
Begitu air mulai terkumpul langsung digendong dan mengusap wajahnya serta minum sepuas-puasnya, meski Ismail dan bundanya telah kenyang minum sepuasnya, Hajar mengeruk tanah pasir dengan kedua tanganya sembari berucap Zamzam, tenanglah wahai air, berkumpullah, jangan engkau menghilang dan janganlah engkau mengering.
Sungguh, dalam seketika Allah telah menjadikan gurun pasir yang kering tak berpenghuni ini menjadi surga, kejadian ini, sama dengan kuasa Allah saat menjadikan gunung perapian yang akan membakar Nabi Ibrahim AS berubah menjadi taman surga yang dingin lagi menyegarkan.
Bahwa ketabahan, kesabaran dan kesalehan manusia pilihan Allah menjadi salah satu ritual haji bagi umat Islam atas pengorbaan dan keikhlasan Siti Hajar sebagai seorang istri dan ibu, ajaran dan keteguhan Nabi Ibrahim serta ketaatan Nabi Ismail sebagai seorang anak yang saleh. Kemuliaan Siti Hajar sebagai ratu Zamzam di mana suami dan anaknya adalah seorang Nabi Allah SWT.
