Zulkifli Tanipu, M.A., Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo
Pernahkah Anda mengikuti kelas bahasa Inggris selama dua jam, tetapi di akhir perkuliahan justru merasa sangat lelah? Padahal yang dilakukan hanya membaca teks, mendengarkan penjelasan dosen, mengerjakan latihan, lalu berdiskusi.
Rasa lelah itu sering dianggap sebagai tanda kurang semangat belajar. Padahal, tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, yang sebenarnya sedang bekerja keras adalah otak kita.
Belajar bahasa Inggris berbeda dengan mempelajari mata pelajaran yang hanya menuntut satu jenis aktivitas. Ketika membaca sebuah paragraf, misalnya, kita tidak hanya mengenali kata-kata.
Kita juga harus memahami makna, mengingat kosakata sebelumnya, menghubungkan ide antarkalimat, sekaligus menebak maksud penulis. Semua proses itu terjadi hampir bersamaan. Semakin banyak informasi yang harus diproses dalam satu waktu, semakin besar pula beban mental yang dirasakan.
Di sinilah konsep working memory menjadi penting. Sederhananya, working memory adalah ruang kerja sementara di dalam otak. Ruang inilah yang kita gunakan untuk menahan informasi sambil mengolahnya. Kapasitasnya terbatas.
Karena itu, ketika mahasiswa harus mendengarkan penjelasan, melihat slide, mencatat, dan menjawab pertanyaan sekaligus, ruang kerja tersebut cepat penuh. Akibatnya, informasi yang baru saja dipahami justru mudah hilang sebelum sempat tersimpan dengan baik.



