Oleh: Fadli H. Alamri, Pemerhati Transformasi Sosial Keagamaan
Sejak remaja Siti Hajar telah menjadi yatim piatu, ayahnya kepala suku di wilayah padang pasir meninggal dunia bersama seluruh kerabatnya dari serangan bangsa Utara. Awalnya di perkampungan Col Mirleri terasa adem dan tentram yang terkenal menjamu tamu dan kedermawanannya, sampai kedatangan duta dari kerajaan Utara yang mengarahkan penyerangan dan membumi hanguskan perkampungan.
Utusan yang berkunjung tersebut dilayani dengan baik bahkan diobati oleh para tabib yang diundang oleh ayahnya Siti Hajar untuk mengeluarkan racun ular dalam tubuhnya. Akan tetapi, kebaikan dibalas dengan pembantian dan pembunuhan seluruh keluarga dan kerabat, hanya tersisa Hajar yang masih remaja diangkut dengan kapal bersama tawananan lainnya ke kerajaan Utara untuk dijadikan budak.
Sebagai putri bangsawan (princess) dari kabilah Col Milreri sangat terpukul akan kejadian penyerangan yang menimpa seluruh kerabatnya. Peristiwa yang menimpa Hajar membawa kepada kedewasaan yang masih di usia remaja. Dengan keteguhan sekuat besi dan penuh keyakinan, berkat kemuliaan dan kemenangan hanyalah milik Allah SWT.
Kabilah Col Milreri yang terdiri dari tujuh puluh dua perkampungan merupakan daerah yang strategis jalur perdagangan dan tempat singgah para musafir dan pedagang yang singgah untuk beristirahat, menjadi tempat bermain dan masa yang indah dalam kehidupan remaja Hajar.




