Kamis, September 10, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Dapat Hidup 230 Tahun, Ini Masalah Besar Ikan Oranye

redaksi
17 Agustus 2022
Kategori : Berita, Konservasi
0
Dapat Hidup 230 Tahun, Ini Masalah Besar Ikan Oranye

Ikan Oranye Roughy (Hoplostethus atlanticus). FOTO: DSCC/TWITTER

Darilaut – Ada masalah besar ikan Oranye Roughy (Hoplostethus atlanticus) yang hidup di laut dalam.

Informasi pemerintah tentang ikan laut dalam yang berwarna oranye tersebut menunjukkan bahwa ikan ini mungkin tidak mencapai kematangan penuh hingga usia 80 tahun. Hal ini membuat seluruh manajemen perikanan menjadi ragu.

Dalam keterangan pers Koalisi Konservasi Laut Dalam (Deep Sea Conservation Coalition) oranye roughy adalah ikan laut dalam yang berumur panjang. Pertumbuhan ikan ini lambat hingga mencapai usia dewasa.

Mungkin terlalu lambat untuk pulih dari industri penangkapan ikan pukat dasar yang sering secara khusus menargetkan oranye roughy.

Ikan ini ketika akan bertelur berkumpul di sekitar gunung laut dan fitur. Belum lama ini, oranye roughy ditemukan hidup hingga lebih dari 230 tahun.

Itulah sebabnya industri (perikanan) menyebut ikan tertua ini “Napoleon“.

Informasi terbaru, dalam “2022 Plenary report” Kementerian Industri Primer merilis bahwa ikan ini tidak mencapai kematangan pemijahan penuh hingga 80 tahun. Sebelumnya, usia pemijahan ikan ini diperkirakan 30 tahun.

Asumsi yang salah tersebut sebagian besar karena ikan oranye (jingga) bertelur secara teratur dari usia 30 tahun. Berarti sampai sekarang ukuran stok pemijahan telah ditaksir terlalu tinggi di seluruh perikanan.

Halaman 1 dari 4
12...4Selanjutnya
Tags: Hoplostethus atlanticusIkan laut dalamIkan Oranye RoughySelandia Baru
Bagikan2Tweet1KirimKirim
Previous Post

Semangat Kemerdekaan, Momentum dan Ikhtiar Membangun Kota Gorontalo

Next Post

Ikan Oranye, Spesies Paling Berharga di Selandia Baru

Postingan Terkait

Laporan Terbaru, Panas Laut Akibat Perubahan Iklim Mempersempit Peluang Pemulihan Terumbu Karang

9,5 Persen Terumbu Karang Dunia Hilang Dihantam Perubahan Iklim

10 September 2026
Setelah Dibuka Kembali Operasional Penerbangan 8 Bandara Berjalan Normal

Setelah Dibuka Kembali Operasional Penerbangan 8 Bandara Berjalan Normal

10 September 2026

Peneliti BRIN dan ITB Temukan Cangkang Rajungan Berpotensi Jadi Separator Baterai Lithium-ion Berkinerja Tinggi

Pascasarjana UNG Perkuat Pencegahan Korupsi

Liput Erupsi Gunung Anak Krakatau Lima Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Satelit Copernicus Sentinel-2 Merekam Letusan Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau Erupsi Rabu Dini Hari

BMKG Pastikan Ruang Udara dan Area Landasan Bandara Aman Dari Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Next Post
Ikan Oranye, Spesies Paling Berharga di Selandia Baru

Ikan Oranye, Spesies Paling Berharga di Selandia Baru

Komentar tentang post

TERBARU

9,5 Persen Terumbu Karang Dunia Hilang Dihantam Perubahan Iklim

Setelah Dibuka Kembali Operasional Penerbangan 8 Bandara Berjalan Normal

Peneliti BRIN dan ITB Temukan Cangkang Rajungan Berpotensi Jadi Separator Baterai Lithium-ion Berkinerja Tinggi

Pascasarjana UNG Perkuat Pencegahan Korupsi

Liput Erupsi Gunung Anak Krakatau Lima Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Satelit Copernicus Sentinel-2 Merekam Letusan Gunung Anak Krakatau

AmsiNews

REKOMENDASI

Badai Daniel yang Menghantam Libya Timur Mengubah Padang Pasir Menjadi Lautan

Dirjen Diktiristek: Hilirisasi Riset Penanda Transformasi UNG Menuju Universitas Berkelas Dunia

Besok Penerapan TSS Selat Sunda dan Lombok

Siklon Tropis di Laut Filipina Diperkirakan Akan Mendarat di Jepang

Pimpinan Universitas Thailand dan Indonesia Integrasikan Prinsip ESG PBB

Tsunami 1674 di Ambon, Laporan Tertulis Tertua di Indonesia

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.