Di Indonesia, terdapat 29 jenis teripang yang diperdagangkan. Sebelas jenis di antaranya bisa ditemukan di wilayah sasi masyarakat dampingan YKAN.
Namun, karena pemanfaatan yang berlebih dan permintaan pasar yang tinggi, populasi teripang di banyak tempat di Indonesia terus menurun. Bahkan, beberapa jenis teripang saat ini sudah sangat jarang ditemukan.
Pada masa awal penetapan sasi tahun 2013 di Kampung Folley, hanya 6 spesies teripang yang ditemukan saat melakukan panen sasi.
Setelah dilakukan pengelolaan sasi oleh masyarakat, pada 2017 ditemukan 11 jenis teripang, yang merupakan jumlah terbanyak sejak buka sasi tahun 2013.
Salah satu contoh teripang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah teripang gosok (Holoturian scabra). Harganya berkisar Rp 600.000 sampai Rp. 1.000.000 per kilo gram di pasaran lokal.
Menurut Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Muhammad Ilman, secara ekologis, teripang memiliki peranan sangat penting dalam menjaga kesehatan ekosistem. Peran tersebut antara lain menetralkan pencemaran perairan (bioremediatory), membantu mengendalikan keasaman laut, dan membantu menyuburkan perairan.
“Oleh sebab itu, wilayah sasi yang dikelola dengan baik memberikan kontribusi ganda, yaitu perbaikan kondisi ekologi, kondisi sosial, dan peningkatan kondisi ekonomi masyarakat,” ujar Ilman.





Komentar tentang post