Bertambah Hewan Laut Terdampar, LIPI: Ada Permasalahan Serius

FOTO: LIPI.GO.ID

Jakarta – Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi mengatakan, jumlah kejadian hewan laut terdampar meningkat. Hal ini menunjukkan ada permasalahan serius yang saat ini belum banyak diketahui.

“Perubahan ekosistem laut akibat perubahan iklim, polusi, eksploitasi berlebih, perubahan tata guna laut dan masuknya jenis asing invasif yang menyebabkan kepunahan menjadi hal yang patut disikapi serius,” kata Cahyo seperti dikutip Lipi.go.id, Selasa (24/9).

Menurut Cahyo, ada pesan yang ingin disampaikan laut kepada kita yang perlu disikapi. Seperti ikan hiu paus (Rhincodon typus) yang masuk dalam kelas hiu dan pari yang tercantum di Daftar Merah IUCN, kategori Endangered (EN).

Hiu paus tergolong jenis terancam atau threatened species. Jika tidak ada upaya penyelamatan dapat masuk kategori critically endangered atau kritis.

Saat ini, berdasarkan Keputusan Men KKP No. 18/Kepmen-KP/2013, hiu tutul ditetapkan sebagai jenis dengan perlindungan penuh.

Selama kurun waktu 2015 sampai 2019, tercatat sedikitnya ada 55 kejadian hewan laut terdampar. Sebanyak 30 kejadian terjadi sepanjang tahun 2019.

Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 20 kejadian. Selama tahun 2019 telah ditemukan 9 hewan laut yang terdampar.

Pada 16 September 2019, ada hiu paus yang tersesat di perairan dekat Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton, Probolinggo.

Setelah beberapa hari, hiu paus ini berhasil dihalau keluar dari perairan di sekitar PLTU Paiton.

Pekan lalu, pada Kamis (19/9) dan Jumat (20/9) tim peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menuju Lumajang, Jawa Timur untuk melakukan identifikasi dan analisis terhadap laporan terdamparnya hewan laut di pantai wilayah Kecamatan Pasiran, Lumajang.

Sebelumnya, pada 9 dan 16 September, ada dua ekor hiu paus terdampar di pantai Kajaran dan pantai Bambang. Saat tim tiba di lokasi, bangkai hiu paus ini telah dikubur di dua tempat yang berbeda.

Tim mendapatkan pula laporan pada Juli lalu terdapat paus bongkok (Megaptera novaeangliae) yang terdampar.

Namun, kondisinya sudah tercerai berai terbawa ombak dan arus. Potongan kulit ditemukan berserakan di beberapa tempat.

Misi membawa paus bongkok untuk menjadi koleksi ilmiah Museum Zoologicum Bogoriense, kandas.

Bagian tubuh yang tersisa hanya beberapa ruas tulang belakang, tengkorak bagian atas dan rahang yang tersimpan di kantor Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur di Probolinggo.*

Exit mobile version