Manado – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado membedah hasil riset yang dilakukan sejumlah dosen.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk seminar nasional pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir berkelanjutan. Seminar berlangsung di Gedung Pascasarjana Unsrat, Rabu (14/11) pekan lalu.
Pembicara utama dalam seminar ini, menghadirkan Direktur The Coral Triangle Initiative on Coral Reefs Fisheries and Food Security (CTI-CFF) Hendra Yusran Siry PhD. Hendra mengantarkan kepada para peserta seminar mengenai pentingnya pengelolaan sumberdaya laut di kawasan CTI.
Pembicara utama selanjutnya, Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Kelautan Pascasarjana Unsrat Prof Dr Rizald M Rompas, MAgr. Rompas membawakan materi “Prospek Ekonomi Farmakognosi Sumberdaya Laut Indonesia”.
Menurut Prof Rompas, sumber daya perairan laut dan air tawar di Indonesia cukup tersedia dan berlimpah. Di perairan ini terkandung ribuan jenis sumberdaya hayati yang dapat dimanfaatkan untuk Kepentingan sediaan industri farmasi.
Di samping ketersediaan lahan yang luas, kata Rompas, ini bisa digunakan untuk kegiatan budidaya biota penyumbang kimia untuk obat-obatan.
Karena itu, Prof Rompas mengharapkan para periset dari perguruan tinggi maupun lembaga yang ada di Indonesia, dapat mengembangkan penelitiannya, sehingga akan bermunculan temuan (invention) baru untuk pemasok ekonomi negara.
Dekan FPIK Unsrat Prof Farnis B Boneka MSc, membuka kegiatan seminar dengan jumlah presentasi sebanyak 27 makalah hasil penelitian dosen FPIK Unsrat. Hadir dalam seminar ini Koordinator Program Studi Ilmu Kelautan FPIK Unsrat Dr Medy Ompi MSc dan sejumlah dosen dan mahasiswa.
Salah satu hasil penelitian tim FPIK Unsrat yang dipresentasikan, antara lain, perkembangan terkini spesimen Elasmobranch laut dalam, Prickly Dogfish, Oxynotus bruniensis. Ikan ini pernah menghebohkan Indonesia dan dunia karena ditemukan terdampar di Teluk Manado, pada 2016.
Hasil penelitian ini dipresentasikan Veibe Warouw dengan tim peneliti Like E Ginting, Letha L Wantania, Silvester B Pratasik dan Stenly Wullur.*
