Minggu, April 19, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

DFW: Menangkap Ikan Dekat Rig Migas Membahayakan Nelayan

redaksi
6 Agustus 2018
Kategori : Berita
0
DFW: Menangkap Ikan Dekat Rig Migas Membahayakan Nelayan

Perusahaan minyak Medco di Natuna. FOTO: DOK. MEDCO

Jakarta – Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, Moh Abdi Suhufan mengatakan, kegiatan menangkap ikan dekat rig (platform) minyak dan gas (migas) akan mengancam keselamatan nelayan.

Saat ini, terdapat indikasi meningkatnya aktivitas nelayan tradisional di sekitar rig dengan perimeter yang melanggar ketentuan. “Ini sangat berbahaya,” kata Abdi, Senin (6/8).

Studi khusus yang dilakukan DFW di Anambas menemukan bahwa nelayan seringkali melakukan aktvitas di sekitar rig milik Medco. Selain Anambas, kasus serupa terjadi di Pantura dan Madura.

Hal ini tentunya membahayakan keselamatan nelayan, karena berpotensi menimbulkan accident di laut. Pemerintah dan stakeholder terkait perlu melakukan aksi dan program bersama untuk memberikan perlindungan kepada nelayan tradisional agar tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan di sekitar rig.

Selama ini, nelayan berkegiatan di sekitar rig karena dianggap sebagai daerah fishing ground. Selain itu, sebagai perlintasan nelayan dan tempat berteduh jika cuaca buruk.

Akitivtas ini berpotensi menimbulkan kecelakaan di laut. Ketika berada di laut, nelayan membawa bahan bakar, merokok dan kegiatan memasak di atas perahu.

Posisi nelayan ini berdekatan dengan operasional pengolahan gas di rig. “Kegiatan nelayan di sekitar rig ini berpotensi menimbulkan accident,” kata Abdi.

Untuk itu, menurut Abdi, upaya yang perlu dilakukan, antara lain memberikan mitigasi dan perlindungan kepada nelayan dalam beraktivitas di laut. Kemudian, menjaga agar operasional obyek vital nasional yang bersifat strategi di laut.

Pemerintah daerah perlu meningkatkan kesadaran nelayan untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar rig migas di Anambas.

Terdapat sekitar 9 sampai 10 rig/platform yang menjadi sasaran nelayan tradisional dalam menangkap ikan. Seperti di Anambas, ada dua jenis ukuran kapal yang digunakan untuk melaut. Pertama, kapal dengan ukuran 3 – 5 GT dengan modal kerja Rp 1,5 sampai 3 juta. Waktu menangkap ikan 5 sampai 7 hari.

Kedua, kapal dengan ukuran 7 – 8 GT, dengan modal kerja Rp 3 sampai 4 juta, dengan waktu menangkap ikan 7 sampai 10 hari. Kapal ikan tersebut berisi 2 – 3 nelayan, terdiri dari nahkoda dan dua nelayan.

Yang sering melakukan penangkapan ikan didekat rig, ada sekitar 124 armada tangkap di Anambas.

Peneliti DFW-Indonesia, Hartono mengatakan perlu ada upaya sinergis antara pemerintah daerah, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dan Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas untuk membuat program bersama. Tujuannya, agar nelayan bisa memahami potensi bahaya jika beraktivitas di sekitar rig/platform.

“Pemerintah daerah berkepentingan untuk memberikan perlindungan maksimal kepada para nelayan agar dapat beraktivitas secara bertanggungjawab dan mengutamakan keselamatan di laut dengan sosialisasi dan pendampingan yang intensif,” kata Hartono.

Menurut Hartono, perlu didorong adanya kesepakatan dan kesepahaman bersama di tingkat nelayan agar tidak melakukan penangkapan ikan pada batas perimeter yang ditentukan. Sebagai pemilik rig/platform K3S perlu melengkapai batas dan tanda-tanda di sekitar rig.

“Dengan tanda tersebut, nelayan tradisional bisa melihat batas aman dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan,” katanya.*

Tags: AnambasDFW-IndonesiaMedco
Bagikan6Tweet4KirimKirim
Previous Post

Episenter Gempa Lombok di Darat, Tetapi Menimbulkan Tsunami

Next Post

Foto: Monitoring Kima di Kapoposang

Postingan Terkait

Daya Tampung UTBK – SNBT di Universitas Negeri Gorontalo 3063 Kursi

UNG Dorong Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi dengan Syarat Menghasilkan Karya Setara Tugas Akhir

19 April 2026
Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

19 April 2026

Peneliti UNG Publikasikan Kompetensi Penerjemah di Jurnal Terindeks Scopus Q1

Gempa M5,8 Terletak Selatan Bone Bolango Laut Maluku

Nelayan dan Warga Bersih Pantai di Pesisir Bone Bolango, Teluk Tomini

Tahun 2026 UNG Targetkan 55 Persen Program Studi Terakreditasi “Unggul”

Eutrofikasi di Teluk Jakarta Sangat Tinggi Secara Global

Eutrofikasi Mengganggu Keseimbangan Ekosistem Perairan dan Memiliki Dampak Sosial yang Luas

Next Post
Foto: Monitoring Kima di Kapoposang

Foto: Monitoring Kima di Kapoposang

Komentar tentang post

TERBARU

UNG Dorong Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi dengan Syarat Menghasilkan Karya Setara Tugas Akhir

Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

Peneliti UNG Publikasikan Kompetensi Penerjemah di Jurnal Terindeks Scopus Q1

Gempa M5,8 Terletak Selatan Bone Bolango Laut Maluku

Nelayan dan Warga Bersih Pantai di Pesisir Bone Bolango, Teluk Tomini

Tahun 2026 UNG Targetkan 55 Persen Program Studi Terakreditasi “Unggul”

AmsiNews

REKOMENDASI

Depresi Tropis Berkembang di Laut Cina Selatan

Libur Tahun Baru, Kemenhub Ajak Awak Kapal Utamakan Keselamatan Pelayaran

Mendekati Pendaratan di Luzon Tengah Noru Menguat Menjadi Topan Super

KM Mina Sejati Jarang Masuk Merauke

BPK Cek Fisik Bantuan Kapal KKP

Buton Selatan Telah Menyiapkan Implementasi SKPT

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.