Kamis, Oktober 1, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Indonesia Perlu Indeks untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati

redaksi
24 November 2020
Kategori : Berita, Konservasi
0
Indonesia Perlu Indeks untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati laut. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Budi S. Daryono mengatakan, Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sangat diperlukan untuk mengukur tren biodiversitas nasional.

Sebagai negara negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, Indonesia hingga saat ini belum memiliki indikator nasional untuk mengukur aktivitas konservasi keanekaragaman hayati.

Menurut Budi yang juga Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), data IBI dibutuhkan untuk mendorong pemerintah pusat dan daerah lebih giat melakukan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

Indonesia telah menerapkan Convention on Biodiversity (CBD) dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai landasan aksi konservasi hayati. Namun, status dan tren penurunan populasi masih terus berlanjut dan kian memprihatinkan.

Kondisi itu terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan jumlah konsumsi, serta perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar sebagai salah satu komoditas.

Tren penurunan keanekaragaman hayati, kata Budi, tidak hanya terjadi di tanah air saja. Penurunan keanekaragaman hayati juga terjadi di tingkat global.

Data Living Planet Index (LPI) tahun 1970 – 2016 menyebutkan bahwa persentase rerata penurunan populasi pada mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan mencapai 68 persen di dunia.

Halaman 1 dari 2
12Selanjutnya
Tags: Biodiversitykeanekaragaman hayatiUGM
Bagikan4Tweet2KirimKirim
Previous Post

Plastik Masih Menjadi Masalah Terbesar Pencemaran Laut

Next Post

Gempa dan Tsunami, BNPB Memasang Sistem Peringatan Dini di Pulau Siberut

Postingan Terkait

UNG Perkuat Tata Kelola Akademik Melalui Uji Publik

UNG Perkuat Tata Kelola Akademik Melalui Uji Publik

1 Oktober 2026
Panas Laut dan El Niño Mungkin Bikin Penyu Lekang Pertama Kali Bertelur di Pantai California

Panas Laut dan El Niño Mungkin Bikin Penyu Lekang Pertama Kali Bertelur di Pantai California

1 Oktober 2026

Diskualifikasi Elektoral Soal Syarat Pendidikan Cawapres Gibran

Pertama Kali Penyu Lekang Bertelur di Pantai California

Topan Surigae Melemah Menjadi Badai Tropis di Dekat Jepang

Malam ini Mahkamah Konstitusi Sidang Pembuktian Keabsahan Syarat Pendidikan Cawapres Gibran

Mengapa Pembelajar Bahasa Inggris Sulit Berkembang?

Data Pengamatan Laut Penting untuk Perlindungan Masyarakat Pesisir dan Keanekaragaman Hayati Laut

Next Post
Gempa dan Tsunami, BNPB Memasang Sistem Peringatan Dini di Pulau Siberut

Gempa dan Tsunami, BNPB Memasang Sistem Peringatan Dini di Pulau Siberut

Komentar tentang post

TERBARU

UNG Perkuat Tata Kelola Akademik Melalui Uji Publik

Panas Laut dan El Niño Mungkin Bikin Penyu Lekang Pertama Kali Bertelur di Pantai California

Diskualifikasi Elektoral Soal Syarat Pendidikan Cawapres Gibran

Mengapa PKI Tak Laku di Gorontalo?

Pertama Kali Penyu Lekang Bertelur di Pantai California

Topan Surigae Melemah Menjadi Badai Tropis di Dekat Jepang

AmsiNews

REKOMENDASI

Jutaan Orang Butuh Bantuan di Turki dan Suriah, PBB Kerahkan Tim Darurat

Nunukan, Pelabuhan Lintas Batas Indonesia – Malaysia

Periset BRIN Soroti Strategi Mitigasi Bencana dan Minimnya Kebijakan Berbasis Sains

UNG Buka Pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berbasis Tes

Gerhana Matahari Cincin Berikutnya Tahun 2031

Topan Co-May Diperkirakan Akan Berbalik ke Laut Cina Timur

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.