Darilaut – Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Budi S. Daryono mengatakan, Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sangat diperlukan untuk mengukur tren biodiversitas nasional.
Sebagai negara negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, Indonesia hingga saat ini belum memiliki indikator nasional untuk mengukur aktivitas konservasi keanekaragaman hayati.
Menurut Budi yang juga Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), data IBI dibutuhkan untuk mendorong pemerintah pusat dan daerah lebih giat melakukan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
Indonesia telah menerapkan Convention on Biodiversity (CBD) dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai landasan aksi konservasi hayati. Namun, status dan tren penurunan populasi masih terus berlanjut dan kian memprihatinkan.
Kondisi itu terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan jumlah konsumsi, serta perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar sebagai salah satu komoditas.
Tren penurunan keanekaragaman hayati, kata Budi, tidak hanya terjadi di tanah air saja. Penurunan keanekaragaman hayati juga terjadi di tingkat global.
Data Living Planet Index (LPI) tahun 1970 – 2016 menyebutkan bahwa persentase rerata penurunan populasi pada mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan mencapai 68 persen di dunia.





Komentar tentang post