Darilaut – Rumput laut sebagai salah satu komoditi yang menjadi masa depan ekonomi pesisir Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saat ini, pembudidaya rumput laut menghadapi perubahan iklim. Perubahan iklim membuat pola musim semakin tidak menentu. Untuk itu, Pembudidaya membutuhkan informasi yang diperbarui secara berkala.
Untuk hal tersebut, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkomitmen membantu penyebaran informasi, agar pembudidaya bisa menyesuaikan teknik budi daya dengan lebih tepat waktu
Selain itu, ice-ice –penyakit lama rumput laut—menjadi isu paling mengemuka karena kerap merusak tanaman rumput laut.
Untuk pencegahannya, mengutip rekomendasi peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) perlu dilakukan rotasi lokasi budi daya, pembaruan kalender musim, dan pemilihan varietas rumput laut yang sesuai musim.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Sulastri Rasyid, menjelaskan pentingnya penyediaan lahan khusus pembibitan.
Untuk menjaga kualitas bibit agar tidak gampang rusak dan terkena penyakit, “kita harus punya kebun bibit,” ujarnya.
Sulastri mengatakan bahwa budi daya rumput laut adalah masa depan ekonomi pesisir Sabu Raijua. Dengan praktik berkelanjutan, bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap bisa merasakan manfaatnya.




