Darilaut – Sebanyak 1.016 orang korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di tiga provinsi, Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar), sedangkan korban hilang 212 orang.
Banjir dan longsor terjadi karena badai siklon (cyclonic storm) atau siklon tropis Senyar mendarat dan menghantam Sumatra bagian utara pada 26 November 2025.
Sistem ini berkembang di Selat Malaka sebagai bibit siklon tropis. Setelah mendarat di dekat Kota Langsa, Aceh, badai siklon Senyar berbelok ke selatan dan Tenggara melintasi daratan Sumatra Utara.
Badai siklon Senyar meninggalkan jejak kehancuran di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
Selama melintasi daratan Senyar mempertahankan kekuatan dan kembali melintasi Selat Malaka. Sistem ini bergerak ke timur dan timur-timur laut menuju Malaysia.
Saat pendaratan badai Senyar telah melemah menjadi depresi tropis. Pelemahan Senyar saat bergerak di Selat Malaka hingga mendekati pendaratan untuk kedua kalinya di Malaysia.
Siklon tropis Senyar yang telah melemah, kembali meregenerasi di dekat Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, Sabtu 29 November. Sistem ini mengarah ke timur laut dengan kecepatan 10 km per jam (6 knot).
Penilaian Awal yang Keliru
Penilaian yang keliru di awal kejadian telah “menutup” sementara akses bagi pihak lainnya, seperti dari negara lain untuk membantu lantaran seolah-olah mampu menangani sendiri dampak kejadian. Ini pula yang memberi kesan pembiaran.




