Darilaut – Praktik agroforestri tradisional khas Gorontalo “Ilengi” telah lama dijalankan masyarakat. Ilengi adalah contoh nyata solusi berbasis alam.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Karlena Arsyad mengatakan kearifan lokal seperti Ilengi dapat menjadi blueprint kebijakan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan sumber daya alam.
Hal ini disampaikan dalam pertemuan The 12th International Flora Malesiana Symposium and the International Nature-Based Solutions Conference (NBCS) yang berlangsung di Manokwari, Provinsi Papua Barat, pada 9–14 Februari 2026.
Dalam simposium ini Karlena membahas materi berjudul “From Customary Practice to Policy Blueprint: Lessons from Ilengi Agroforestry in Gorontalo for Designing Participatory Nature-based Solutions.”
Dengan demikian, menurut Karlena, pembangunan tidak hanya berorientasi pada hasil ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sosial dan ekologis.
Dalam forum yang sama, Dosen Fakultas Pertanian UNG, Zulham Sirajuddin, membawakan materi berjudul “Leveraging Biodiversity Indicators for Sustainable Environmental Management in Gorontalo Province”.
Zulham menekankan pentingnya mengintegrasikan indikator biodiversitas sebagai dasar pengelolaan lingkungan dan pembangunan berbasis pertanian.




