Darilaut – Belum banyak penelitian mengenai padang lamun (Seagrasses) di perairan Gorontalo Teluk Tomini maupun kawasan timur Indonesia.
Padahal, pendataan sebaran dan pemantauan kondisi kesehatan lamun penting dilakukan sebagai salah satu bentuk aksi pencegahan kerusakan lamun.
Peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan di perairan Gorontalo terdapat sedikitnya 10 jenis yakni C. rotundata, C. serrulata, E. acoroides, H. pinifolia, H. uninervis, H. minor, H. ovalis, S. isoetifolium, T. hemprichi, dan T. ciliatum.
Lamun dengan kerapatan tertinggi yakni C. rotundata dengan rata-rata kerapatan sebesar 110,42 tegakan/m2, menurut peneliti dari Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG.
Namun, hasil penelitian ini cukup mengejutkan. Secara umum, menurut peneliti, tutupan lamun di lokasi penelitian di perairan Gorontalo berada pada kondisi rusak dan kurang sehat.
Para peneliti masing-masing Sitty Ainsyah Habibie, Sri Nuryatin Hamzah, Sentia, Nurnaningsih Abas, dan Dandi Hasyim, telah mempublikasikan hasil riset tersebut di Buletin Oseanografi Marina Oktober 2025 Vol 14 No 3: 438..
Menurut peneliti, meskipun potensi lamun besar, kondisinya memerlukan perhatian serius untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dan kualitas lingkungan perairan.




