Sampel lamun diamati dengan menggunakan kuadrat yang berukuran 1x1m2 dengan jarak antara kuadrat yang satu dengan yang lainnya yakni 5 m.
Kuadrat tersebut dibagi menjadi 4 subkotak sama besar berukuran 50×50 cm2 untuk memudahkan pengamatan lamun pada kuadran. Lamun selanjutnya diidentifikasi menggunakan buku panduan untuk pemetaan dan pemantauan sumber daya lamun.
Secara umum, tutupan lamun di Lokasi penelitian di perairan Gorontalo termasuk pada kategori tutupan jarang-sedang dan berada pada kondisi rusak/ miskin hingga rusak/ kurang kaya/ kurang sehat.
Lamun dengan status rusak/ miskin di perairan Kota Gorontalo dapat disebabkan oleh banyaknya aktivitas penangkapan ikan di wilayah perairan ini, sehingga intensitas lamun dilalui oleh perahu/kapal penangkapan ikan lebih banyak.
Selain itu, keberadaan sampah rumah tangga dan limbah dari wisata kuliner di sekitar lokasi yang terbawa arus Sungai Bone dan Bolango, serta aktivitas pelabuhan yang mengarah ke Kawasan pesisir juga turut memberikan tekanan terhadap ekosistem lamun.
Di perairan Kabupaten Gorontalo, aktivitas penangkapan ikan tidak terlalu tinggi dan tidak ditemukan wisata kuliner di sekitar Lokasi. Dengan kondisi ini dapat mendukung kondisi lamun berada di level setingkat di atasnya yakni rusak/kurang kaya/kurang sehat. (VM)




