Darilaut – Hasil riset menunjukkan bahwa silvo-akuakultur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pengelolaan pesisir yang mengintegrasikan aspek ekologi dan produksi perikanan secara berkelanjutan.
Beberapa komoditas yang telah dikaji dalam sistem silvo-akuakultur antara lain udang windu, udang vaname, ikan bandeng, kepiting bakau, nila salin, dan rumput laut.
Konsep silvo-akuakultur ini memadukan pengelolaan mangrove dengan budidaya perikanan melalui prinsip keberlanjutan.
Penerapannya antara lain menekankan penggunaan bahan alami, optimalisasi fungsi mangrove, pengurangan input budidaya, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, serta pendekatan budidaya yang meniru proses alami.
Berbagai model silvo-akuakultur telah dikembangkan di Indonesia, seperti model empang parit, komplangan, tanggul, hingga sistem greenbelt yang menempatkan mangrove sebagai zona penyangga di depan area budidaya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti perkembangan riset silvo-akuakultur sebagai pendekatan pengelolaan pesisir yang mengintegrasikan ekosistem mangrove dan kegiatan akuakultur guna mendukung ketahanan pangan di wilayah pesisir.
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan silvo-akuakultur karena memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas sekitar 3,31 juta hektare yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Hidayat Suryanto Suwoyo, dalam Webinar OceanFarm ke-8 bertajuk Silvo-Aquaculture and Its Contribution to Coastal Food Resilience yang diselenggarakan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Selasa (23/6).




