Darilaut – Tanpa mineral kritis, banyak teknologi energi bersih tidak akan ada. Sumber daya mineral kritis yang mendorong masa depan energi bersih.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membahas mineral kritis (critical minerals) antara lain karena kekhawatiran kelompok bersenjata mengendalikan sumber daya alam tersebut dan ilegal.
Melansir UN News, setiap kendaraan listrik, turbin angin, panel surya, ponsel pintar, semuanya bergantung pada mineral yang diekstraksi dari bumi.
Seiring negara-negara mempercepat transisi ke energi bersih (non-bahan bakar fosil), permintaan akan mineral seperti litium, kobalt, nikel, tembaga, dan grafit meningkat pesat.
Bagi banyak negara, ini menghadirkan peluang ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun di beberapa tempat, persaingan atas sumber daya ini telah memicu konflik, korupsi, kerusakan lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Minggu ini, Dewan Keamanan PBB mengajukan pertanyaan mendasar:
Bisakah mineral yang mendorong transisi hijau juga menjadi fondasi perdamaian dan pembangunan berkelanjutan?
Terdapat lima pertanyaan. Pertama, apa itu mineral kritis?
Mineral kritis merupakan bahan penting dalam banyak teknologi modern, termasuk:
• Baterai kendaraan listrik
• Turbin angin
• Panel surya



