Darilaut – Selama tahun 2026, migran — orang yang melakukan migrasi — mengalami peningkatan. Cuaca ekstrem, perang, tekanan ekonomi, dan perubahan kebijakan telah mengubah pola perjalanan migrasi di berbagai wilayah selama empat bulan pertama tahun 2026, yang memicu lonjakan angka kematian.
Hal ini terungkap dalam data baru yang dirilis Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), pada hari Rabu.
Data terbaru badan tersebut yang berbasis pada rute perjalanan menunjukkan peningkatan drastis jumlah korban jiwa di kalangan orang-orang yang mencari kehidupan lebih baik—mulai dari Teluk Benggala hingga Samudra Atlantik—di mana banyak di antaranya menjadi korban perdagangan manusia atau penipuan di sepanjang perjalanan.
“Perhatian sering kali hanya tertuju pada segelintir rute tertentu, padahal hampir separuh dari 304 juta migran internasional di dunia sebenarnya bermigrasi di dalam kawasan mereka sendiri—baik untuk tujuan pekerjaan, keluarga, pendidikan, maupun keselamatan,” kata Wakil Direktur Jenderal IOM, Ugochi Daniels.
Ia merujuk pada laporan terbaru berjudul Global Overview of Migration Routes atau Gambaran Umum Global Rute Migrasi, yang disusun berdasarkan data dari matriks pelacakan perpindahan penduduk (displacement tracking matrix), Missing Migrants (Migran Hilang), serta mitra-mitra regional.




