Darilaut – Hasil penelitian menunjukkan magma Gunung Anak Krakatau memiliki karakter lebih basaltik, lebih panas, dan tersimpan lebih dalam dibandingkan periode Old dan Young Krakatau.
Temuan tersebut memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan sistem magmatik Krakatau.
Pengetahuan tentang hubungan antara komposisi magma, kedalaman reservoir, temperatur, kondisi oksidasi, dan aktivitas erupsi menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman risiko serta upaya mitigasi bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari, adanya perubahan komposisi dan kedalaman penyimpanan magma dalam evolusi sistem Krakatau.
Dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9), Adrin mengatakan, pengawasan dan pemahaman ilmiah yang komprehensif mengenai Krakatau sangat penting bagi keselamatan masyarakat pesisir dan kelancaran aktivitas pelayaran di kawasan Selat Sunda.
“Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi geologi dan vulkanologi, tapi juga dalam kaitannya dengan keselamatan masyarakat, aktivitas pelayaran, serta potensi bahaya yang dapat berdampak pada wilayah pesisir,” ujar Adrin seperti dikutip dati Brin.go.id.



