Zulkifli Tanipu, M.A.,Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo
Setiap kali kemampuan bahasa Inggris dinilai belum memuaskan, perhatian kita hampir selalu tertuju pada individu. Pembelajar bahasa Inggris dianggap kurang rajin membaca, kurang berlatih berbicara, atau kurang memiliki motivasi.
Penjelasan itu memang terdengar masuk akal, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan. Jika kesulitan yang sama terus muncul di berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga kursus, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya pembelajarnya, melainkan sistem pembelajaran yang membentuk pengalaman belajar mereka.
Selama ini, pembelajaran bahasa Inggris lebih banyak diarahkan pada penguasaan materi. Pembelajar mempelajari tata bahasa, menghafal kosakata, mengerjakan latihan, lalu dinilai melalui tes yang mengukur ketepatan jawaban.
Semua itu penting sebagai fondasi, tetapi fondasi belum tentu menghasilkan kemampuan berkomunikasi. Inilah sebabnya banyak pembelajar mampu mengerjakan soal dengan baik, namun masih kesulitan menyampaikan pendapat, menulis argumen, atau berdiskusi dalam bahasa Inggris.
Persoalan tersebut tidak lahir dari satu ruang kelas saja. Kurikulum menentukan apa yang diprioritaskan untuk dipelajari, asesmen menentukan apa yang dianggap sebagai keberhasilan, sementara pendidik bahasa Inggris menyesuaikan strategi mengajar dengan tuntutan tersebut.



