Menteri Susi akan menginvestigasi hal ini dan mengirimkan alat berat (eskavator) untuk membersihkan lokasi tersebut.
Susi mengimbau agar perusahaan-perusahaan tidak membuang sisa-sisa limbah ke laut dan pantai secara sengaja. Perusahaan-perusahaan yang masih memakai plastik sekali pakai untuk segera mengalihkan produksinya ke bahan lain yang lebih tahan lama seperti tumblr dan tas ganepo.
Susi juga mengajak masyarakat untuk menghentikan pemakaian plastik sekali pakai seperti kresek. Dengan begitu, permintaan plastik sekali pakai pun akan berkurang sehingga para produsen diharapkan mulai mengurangi produksi kresek untuk bergeser ke bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.
Pemakaian plastik sekali pakai, dapat mengancam keberlangsungan ikan di laut. Hal ini dikarenakan plastik membutuhkan puluhan tahun untuk hancur sehingga sampah plastik yang bermuara di laut dapat termakan oleh ikan. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang penting untuk kesehatan dan kecerdasan SDM.
Tahun 2030 diprediksikan akan lebih banyak plastik daripada ikan di laut. Ironisnya lagi, laut Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia, setelah Cina. Hal ini mengancam lebih dari 800 spesies biota laut, termasuk ikan dan terumbu karang.
Meresponi kondisi tersebut, Pandu Laut Nusantara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Yayasan EcoNusa bersama 300 komunitas, organisasi, peerusahaan swasta, BUMN, dan Pemerintah Daerah yang tersebar di seluruh Indonesia menyelenggarakan gerakan Menghadap Laut 2.0 pada Minggu (18/8).





Komentar tentang post