“Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi. Selanjutnya, aksi dini harus dijaga melalui edukasi yang tiada henti, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor,” kata Faisal pada webinar “A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience“ pada Kamis (16/7).
Faisal mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi pemantauan di hulu tidak akan mampu menyelamatkan nyawa jika terputus dari masyarakat di sektor hilir.
Pemerintah daerah dan masyarakat harus benar-benar memahami dan memanfaatkan informasi peringatan dini dari BMKG, lalu segera merespons dengan langkah-langkah dini yang tepat.
“Kesiapan dalam hitungan detik yang kritis inilah yang menjadi ujung tombak rantai keselamatan,” ujarnya.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyoroti tantangan psikologis masyarakat terhadap bencana tsunami yang termasuk kategori peristiwa langka (rare events). Karakteristik bencana yang jarang terjadi ini kerap membuat kesadaran risiko masyarakat memudar seiring berjalannya waktu.
Karena itu, Nelly mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peringatan 20 tahun ini sebagai wadah kolektif untuk merawat ingatan publik.




